Ziarah Mie Ayam #3

Kemarin Rabu siang, kami (saya dan teman-teman KBEA) mengunjungi warung mie ayam rekomendasi dari antropolog sekaligus penulis Tamasya Bola, Om Darmanto Simaepa

Letaknya di daerah Kaliurang. Lebih tepatnya di Jalan Damai. Kalo kamu tahun Angkringan Mojok, nah warung mie ayam terletak di depannya. Agak geser sebelah timur. Dikit aja, kok.

Oh iya, sekadar informasi, delapan tahun silam daerah adalah daerah jarang penghuni. Tak dilirik bahkan kental dengan suasana mistis. Singup, kalo bahasa Jawanya.

Namun sekarang, daerah itu berubah drastis. Banyak penghuni dan banyak kuliner rekomendasi para food blogger. Dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Dari yang rasanya ueenak banget hingga enak. Mulai dari ujung timur, ada salah satu soto termurah di Jogja hingga di ujung barat yaitu salah satu resto ikan termahal di Jogja. Lengkap.

Warung mie ayam tersebut bernama Mie Ayam Pak Tulus. Eh, ada embel-embel Wonogiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mie ayam di Jogja, pasti ‘harus’ ada embel-embel Wonogiri. Biar meyakinkan konsumen bahwa rasa mie ayam itu persis seperti yang ada di Wonogiri. Apakah benar demikian?

Mie ayam Pak Tulus buka dari pukul 11.00-habis. Saat kami ke sana, kebetulan Pak Tulus bersama Pak Tua, baru saja selesai menata dagangannya. Di meja, ada saos, sambal, dan kecap. Ada pula loncang (ada yang menyebutnya daun bawang atau boncang) dan acar. Tak lupa, garpu, sendok, dan sumpit.

Yang menarik adalah antrian cukup banyak. Mungkin, mereka tak sabar segera menyantap mie ayam buatan Pak Tulus. Termasuk kami.

Kami memesan tujuh mie ayam. Si Bapak sempat bertanya apakah kami mau menambahkan ceker atau polosan. Dan, Anda tahu jawaban kami?

Empat mie ayam ceker (Yang satu tanpa sawi, yang satu lagi sawi lebih banyak dan ceker dipisahkan). Tiga mie ayam polosan (Yang satu tanpa sawi, yang satu lagi kuah jangan terlalu banyak).

Bapaknya hanya menjawab, “Iki nganggo ayam kabeh, tho?”

Ya jelas kami ngekek melungker-lungker. Mungkin bapaknya antara bingung atau gemas. Baru saja buka, kok ya pesanannya unik.

Pesanan tiba. Semangkuk mie ayam bersama pangsit yang terpisah. Mienya tebal. Tidak seperti dua ziarah sebelumnya yang tipis-tipis. Pangsitnya disajikan cukup banyak.

Kami memulai dengan menyeruput kuah. Ada yang takjub seperti Agus, tapi ada pula yang tanpa ekspresi seperti Seno. Ada yang mengatakan enak seperti Almas dan ada yang bilang biasa saja seperti Mujib. Selera bisa diperdebatkan.

Kalo saya? Sip Markusip. Bisa dicoba.

Untuk harga mie ayam cukup terjangkau. Di bawah Rp10 ribu untuk mie ayam polosan. Kalo tambah ceker, jadi Rp10ribu. Menyenangkan, bukan?

– ditulis oleh Moddie Alvianto

Leave a Reply

Your email address will not be published.