Yang Tidak Bisa Dihitung

Saya memulai bagian ini dari peristiwa kecil, satu gelas kotor yang tergeletak di dapur Rumah Mbesi. Gelas kotor di tempat cuci piring itu tadinya satu, kemudian bertambah jadi dua. Tambah piring kotor. Sampai 4 hari kemudian semakin menumpuk gelas dan piring kotor.

Kebiasaan yang terjadi ini pernah membuat sebagian kita di sini akhirnya berkumpul. Di forum itu, Prima bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Pak Roem kepadanya. Singkatnya, kalau melihat berjalan tidak suatu organisasi lihatlah dari kebiasaan-kebiasaan kecil orang di dalamnya. Kebiasaan mengembalikan barang yang udah dipakai ke tempatnya. Kebiasaan membersihkan gelas yang sudah digunakan.

Satu gelas kotor yang saya ceritakan di awal tadi bisa digunakan untuk melihat apa yang sedang berlangsung di rumah mbesi, bagaimana satu orang bisa memahami orang lainnya, bagaimana pola interaksi antarmanusia di sana, apakah ada sistem kerja bersama yang tanpa ada petunjuk membuat para penghuni rumah mengambil inisiatif membersihkan bersama.

Zaki yang juga hadir di forum itu membawa memaknai beda apa yang disampaikan Pak Roem melalui Prima. Yakni, kebiasaan untuk mengembalikan barang kecil yang digunakan bisa jadi cerminan apakah kita punya kesadaran untuk bertanggung jawab atas gagasan-gagasan dan ide-ide yang dilontarkan. Tidak cuma melempar ide, gagasan, keinginan, tapi juga melaksanakan.

Saya memberi contoh di sekitar kita, saya sendiri mudahnya haha… saya bikin ekspedisi pantura dan masih berhutang karya ke buku mojok sampai sekarang.

Saya kira, menjaga gagasan terlaksana dan menjadi karya itu bukan hal mudah. Belum selesai keinginan satu, udah ingin yang lain. Tidak ada keteguhan mewujudkan keinginan. Tidak ada tanggung jawab penuh untuk mengawal sampai tuntas. Ditunda sebentar saja, kita lupa, dan udah punya keinginan lain.

Saya beri contoh lain, Agus ini termasuk orang yang baik dan bertanggung jawab. Suatu kali dia melontarkan ide membeli meja pimpong dan dibelikan. Buatku nggak teramat penting nilai rupiahnya. Yang penting adalah Agus kemudian mengetahui meja pimpong yang dibeli karena permintaannya itu tak terurus di rumah Mawar dan kemarin meja pimpong dibawa ke rumahnya. Maksud baik dia, kalau di rumahnya barangkali ada yang urus, memakainya sesekali untuk olahraga bersama anak asuhnya, Dafi atau Gusdurian.

Saya senang misalkan orang-orang di sini punya keteguhan seperti Agus. Merawat keinginan dalam jangka panjang. Teguh menjalani dan tidak mudah goyah. Prima misalkan, kembali memimpin mojokco, menjalankan rutinitas harian di sana karena itu membuatnya bisa lebih manusiawi seperti yang diutarakan ketika ingin mojokco tetap ada.

Teman-teman, kita ini sekarang hidup di zaman penuh distraksi, gangguan-gangguan kecil banyak sekali yang membuat mudah goyah. Rentan beralih. Jangankan untuk waktu yang panjang. Niatnya berangkat ke soto pak samsul dan kita telah melakukan perjalanan ke sana, tapi tiba-tiba sadar ada di warung makan lumintu karena di perjalanan itu terbesit ayam goreng rempah. Tak sesuai dengan niat awal yang ditetapkan.

Bersabarlah. Tak perlu banyak dipikir. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Yang di depan mata. Jangan mudah goyah diambang-ambing badai keinginan.

Kita mengenal Kak Nunu orang sering kita sebut pakar media, Nuran yang mengetahui banyak hal tentang musik dan menuliskan dengan baik, fawaz tentang pendidikan, Hasby terkait bisnis, alfa di sistem kerja dan perburuhan, dll. Yang saya garisbawahi di sini adalah dalam hidup mereka, ada garis yang tergores di telapak tangan dan kaki mereka yang menjadi saksi berapa waktu dan energi yang dicurahkan untuk berkutat pada hal-hal yang sama setiap hari.

Saya agaknya ragu bila apa yang mereka kerjakan sehari-hari tak pernah terbawa ke alam mimpi dan membuat terjaga di malam hari.

Tentang ‘Yang Tak Bisa Dihitung’, saya meminjam dalam rumus matematis, dalam rumus kimia dan fisika berlaku pula prinsip ini. Atau kita menyebutkan di luar prediksi, abnormal, keluar dari jalur, atau menyimpang. Kesemua sama, membawa implikasi kekacauan di masa mendatang.

Berikut ini hal-hal yang masuk kategori ‘Yang Tak Bisa Dihitung’. Teman-teman bisa jadikan bahan permenungan.

1. Rakus
Rakus di sini bisa macam-macam bentuknya. Bisa jadi karena kita ingin terlalu banyak hal. Misalkan ingin dapat pendapatan lebih dengan mengambil kerjaan banyak. Tiga atau empat berbarengan. Tapi lupa kemampuan. Di hari satu, ok. Dua, ok. Di hari ketujuhbelas kok malah kehabisan energi sehingga kesemua kerjaan terganggu.

Rakus pula yang seringkali membuat kita melanggar prinsip-prinsip etis. Mencuri. Korupsi, dll. Rakus pula yang membuat kita seringkali melanggar batas atas yang harusnya dilakukan oleh teman kita.

2. Narsistik
Narsitik bentukanya juga macam-macam. Bisa keinginan kecil di hati kita untuk dianggap dan mendapatkan penghargaan dari orang lain. Bisa itu publikasi media, akun media sosial. Narsitik pula yang kerapkali membuat kita bocor dan ceroboh yang bisa jadi petunjuk bagi orang lain untuk menyerang kita di kemudian hari. Bapak Arsip Nasional tentu lebih paham akan hal ini.

Narsis bila berlebihan akan membawa kita ke dunia panggung, dikeramaian, dan mendapatkan keplok dari banyak orang. Tapi, perlahan kita terbuai dan berbelok arah dari tujuan awal.

Dua sifat itu juga yang membawa pandemi di hadapan kita hari ini. Hanya saja konteksnya kerakusan berwujud dalam bentuk lain. Menganggap sumber daya alam dan apa yang tersedia di alam sebagai milik kita sendiri sehingga mau dihabiskan ke semuanya. Diubah menjadi kapital dan kepongahan individu atau kelompok yang tak ada pentingnya buat kebaikan bagi manusia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.