Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

“KARAKTER dan plot itu seperti al-fatihah—induknya al-Quran,” Puthut EA melontarkan renik ayatnya dalam satu tausyih malam Jumat dengan para peserta Kelas Menulis KBEA.

Diskusi berselang di sebuah kedai kopi Phoenam, bilangan Kaliurang km 5,6, di bawah penerangan temaram. Di sebuah tembok kedai, terpajang pigura kliping iklan media cetak tempo doeloe, di bagian lain ditempeli aksara Mandarin. Suasananya sepi. Sesekali terdengar derum kendaraan dari jalan raya, sekitar sepuluh meter dari ruang diskusi. Phoenam berasal dari kata Mandarin, Pho Nam’, artinya ‘terminal selatan’, persinggahan sementara. Typografi logonya antarsatu huruf dijajar linear. Huruf ‘P’ bersapu warna hitam, lainnya hijau muda.

Puthut memulai dengan pertanyaan, “Siapa yang belajar menulis untuk bagian dari skill kehidupan atau sebagai pekerjaan?”

Ia menjelaskan maksudnya, “Misalnya saya bisa motret sedikit, gunanya sebagai pelengkap saja, sedangkan profesi saya penulis. Kadang-kadang memotret dibutuhkan bagi profesi saya. Menulis itu keahlian yang saya pakai untuk hidup.”

Nadliful Hakim, mahasiswa sosiatri UIN Sunan Kalijaga, asal Lamongan, mengikuti kelas menulis ini karena pilihan pertama, sebagai pelengkap dalam kehidupannya. Meski dia sempat bingung, profesi macam apa yang bisa dikerjakan setelah lulus kuliah. Tapi, bagaimanapun, dalam benaknya sekarang dia ingin menjalani laku sebagai pegiat sosial.

Taufiqul Hakim, mahasiswa UGM dari bahasa Jawa menjelaskan, semula dia menimbang pada pilihan pertama. Namun, lama-kelamaan, dia berpikir baginya menulis adalah pilihan kedua, sebuah profesi. Kelak, bila dia lulus, dia ingin membukukan skripsinya. Dia kini menjalani semester akhir dan mulai menggarap skripsi.

“Setelah jadi buku, lalu apa selanjutnya?” tanya Puthut. Hakim, dalam keadaan yang masih meraba-raba, meyakinkan dirinya ingin menjadi penulis.

Peserta lain, Rosy Dewi Arianti Saptoyo, yang datang dari Jember, mengatakan dia ingin menjadi editor. Dia membaca komik sejak SD hingga SMA. Saking rajinnya, dia mulai menandai setiap komik yang dia baca, supaya tidak mengulangi komik yang sama. Dia hitung dia mengoleksi 500 komik. “Enak jadi editor karena bisa baca secara gratis,” katanya.

Brita Putri Utami, tengah menggarap skripsi dari studinya di Hubungan Internasional UGM, bolak-balik Yogya-Solo sekaligus bekerja menangani situsweb Solider, organisasi yang mengurusi isu difabel, menyatakan pada pilihan kedua. Begitu pula Husna Farah dan Nia Aprilianingsih. Farah, kini studi kedokteran gigi di UGM, menginginkan kemampuan menulisnya dapat menopang kegiatannya untuk “mengabdi pada kemanusiaan.” Sementara Nia, saat ini menyelesaikan tugas akhir kuliahnya, ingin menjadi guru yang bisa menulis.

Ekspektasi Prayudha, yang baru wisuda dalam studi magister linguistik akhir bulan lalu, ingin menjadi penulis. Sementara Ayu Tika Pravindias, mahasiswa hukum UGM, ingin setelah lulus menjadi dosen hukum pidana sekaligus pegiat antikorupsi. Dan dia menghendaki aktivitasnya itu ditopang kemampuan menulis.

Puthut melontarkan pandangan saat obrolan mengarah pada Farah. “Studi dokter gigi itu unik,” katanya. Hal paling kecil didalami sekian tahun. “Ini berbeda dengan kuliah geografi misalnya, yang harus mempelajari kawasan.”

Sembilan kursi. Dua meja bundar. Satu persegi panjang. Satu mejak kotak. Berjajar membujur. Ada enam perempuan. Di atas meja, cangkir-cangkir kopi, gelas minuman dingin, roti bakar srikaya , asbak, sejumlah bungkus kretek. Di susunan meja-kursi di dekat tembok, sejawat lain hadir: Aditya Rizki, Arlian Buana, Eko Susanto, Gede Indra Pramana, dan Sirajudin Hasbi. Saya berada di antara Fahri Salam dan Wisnu Prasetya. Ada Tika, teman Nia. Fahri duduk di dekat Puthut. Kang Eko, saat obrolan mengalir, sesekali memotret.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

PUTHUT EA mencoba meraba-raba hubungan antara karya jurnalistik dan fiksi.

Menurutnya, karya new journalism atau jurnalistik mutakhir punya kedekatan dengan karya fiksi. Terutama bagaimana karya itu diceritakan atau ditulis, sehingga karya jurnalistik semakin ke sini semakin enak dibaca. Bahkan dari beberapa karya, dia melihat hampir tidak ada perbedaan antara karya jurnalistik dan novel.

Karya jurnalistik mutakhir menjadi enak sekali dibaca dengan meminjam banyak elemen yang digunakan oleh para penulis fiksi: Tema, tokoh, plot, sudut pandang.

Jurnalisme mutakhir bisa memakai sudut pandang orang pertama, pencerita masuk ke dalam tulisan. Juga bisa memakai sudut pandang orang ketiga, mirip sekali dengan novel. Kalau karya jurnalistik lama, jurnalisnya tidak masuk dalam cerita, mengambil jarak, seakan-akan steril dari persoalan. Tapi itu hanya sekedar cara eksekusi.

“Fiksi itu bukan soal mengarang atau mengada-ada,” kata Puthut, “Ia juga bisa berbasis riset. Sama dengan karya jurnalistik. Risetnya juga bisa mengandalkan studi pustaka, lapangan, dan sebagainya.”

Karakter
Penulisan fiksi dan jurnalistik yang baik tak bisa menghindar dari apa yang disebut karakter atau tokoh. Tokoh belum tentu punya nama. Menceritakan seseorang tidak dengan menyebut nama, bisa kita lakukan. Cukup dengan kata ganti ‘dia’ atau ‘mereka’. Tapi tokoh akan tidak punya apa-apa kalau tidak punya karakter. Elemen pertama yang dipinjam oleh jurnalistik dari fiksi: membangun karakter.

“Cara mencari atau menggambarkan karakter tokoh,” imbuhnya, “yang paling baik itu ada pada surat Al-Ikhlas. Ini seirius. Al-Ikhlas itu konon surat yang artinya ikhlas tapi tak ada kata ikhlas di dalamnya.”

Untuk menggambarkan karakter tokoh, yang paling baik itu tidak dengan cara memvonis tokohnya secara langsung. Sebaiknya jangan memakai kata, ‘hakim galak’ atau ‘hakim pemarah’. Hakim harus dijelaskan, dideskripsikan, atau diceritakan. Harus menghilangkan dulu potensi untuk mengkerangkeng karakter.

“Hilangkan kata galak. Ceritakan ulang bagaimana supaya pembaca itu bisa tahu tanpa disebut galak. Entah lewat cara dia menutup pintu, cara dia merespons omongan orang, ataupun cara dia berpikir.”

Tentu karena dalam penulisan fiksi itu boleh menceritakan pikiran orang. Monolog interior. Akan tetapi dalam jurnalisme, hal itu pasti akan dihambat.

“Kalau enggak ada basis materialnya, dalam jurnalistik kan enggak boleh.”

Namun bisa diceritakan dengan cara lain yang tampak oleh mata, yang anda dengar, anda perhatikan. Menceritakan kisah yang baik adalah tidak boleh berhenti pada kata sifat.

Pada dasarnya semua bisa diceritakan. Tapi nanti dalam jurnalistik termutakhir itu beda. Ada disiplinnya. Monolog interior pasti dihindari. Biasanya yang tak berhubungan akan dihilangkan oleh editornya. Dianggap bagian yang enggak penting itu mengganggu pembaca atau distraksi. Ada yang bertele-tele biasanya dihapus. Itu akan menghabiskan energi pembaca. Pesan kalaupun ada yang ingin disampaikan, akan menjadi kabur.

Misalnya, menyampaikan teknik menyelipkan informasi yang dimiliki karakter dalam tulisan. Tiap detail informasi itu bisa kita sebar atau cicil. Misalnya ada pada paragraf 10, 15, dan sebagainya.

“Sehingga tokoh itu tak langsung utuh nongol. Enggak selesai dibaca dalam satu atau dua paragraf. Tapi pelan-pelan disampaikan kepada pembaca.”

Membangun informasi mengenai karakter tokoh bisa dilakukan perlahan. Misalnya, umurnya di paragraf pertama, biasanya jenis kelamin didahulukan, lelaki atau perempuan, mengingat Bahasa Indonesia tak bisa membedakan laki-laki atau perempuan. Karena kata gantinya itu tidak identik, maka harus disebut jenis kelaminnya dengan segala cara. Tidak harus langsung sebut karakter anda laki-laki. Ada banyak cara yang lain.

“Sampai sekarang itu teori yang saya pegang. Kalau orang bisa menceritakan karakter dengan baik, maka dia sudah menyelesaikan separuh dari persoalan menulis.”

Plot
Lalu yang kedua seputar plot. Kalau di dalam jurnalitik mutakhir itu ada yang dibuat maju, mundur, atau bahkan maju-mundur secara acak. Makin terampil menggunakan plot, makin memantang kreativitas kita.

Tentu sebelumnya harus paham betul persoalannya. Karena kalau tidak, akan gagal membangun plot. Harus tahu persis persoalan secara detail tiap babak, maka dari itu akhirnya bisa dipotong-potong lalu disusun dalam bentuk apapun. Mulai detail tanggal, peristiwa, adegan-adegannya seperti apa.

“Semakin lihai menyusun plot maka semakin melatih mengetahui tiap detail.”

The Professor and the Madman karya Simon Winchester—itu pencapaian karya jurnalistik yang lebih baik dibanding kebanyakan novel. Jurnalisme yang menjangkau rigid persoalan, lalu mengembangkan, dan mengeksekusinya dalam bentuk narasi. Maka dari itu menguasai karakter dan plot itu seperti telah memegang alfatihah, induk segala Juzz dalam Al-quran.

Struktur
BRITA bertanya mengenai bagaimana cara menguatkan arsitektur tulisan atau yang biasa dipahami sebagai struktur.

“Kalau buat tulisan agar terstruktur, pertama, ya, memakai outline atau kerangka. Dari awal sampai akhir dulu,” jawab pembicara tamu.

“Nantinya bisa dimainkan dalam eksekusinya,” dia meneruskan, “Misalnya diambil yang tengah untuk menjadi prolog atau awalan. Kalau membuka cerita dengan baik akan membuat pembaca anda tertaritk untuk melanjutkan.

Bisa dikatakan bahwa pertaruhan yang paling penting itu ada pada pembuka. Di situ ada peran penulis yang tengah berusaha merebut hati pembaca. Kalau itu sudah dimenangkan, maka pembaca akan mudah mengikuti alur selanjutnya. Kalau di awal sudah membingungkan, mengesalkan, dan argumentasinya tidak kokoh, orang akan malas membaca.”

“Bagaimana cara menghubungkan tiap plot agar rapi?” Tanya peserta yang lain.

Puthut diam sejenak, kedua matanya menyapu seisi ruangan.

“Lihat itu.”

Dia menujuk bagian tembok di bagian depan dapur kedai kopi yang permukaannya sengaja tidak dipoles. Sehingga lapisan dalam berupa tumpukan batu bata dan semen terlihat jelas.

“Kalau batu bata itu tidak rapi, semennya akan susah untuk menyambungkan batu demi batu. Kalau batu batanya rapi, semennya akan mudah menempel. Kalau detailnya sudah dipegang, mau anda bolak-balik plotnya, itu nanti menyambungkannya mudah sekali.”

Kebanyakan yang dilakukan oleh para penulis, teknik menyambung kadang cukup batasan bintang, simbol kosong, atau inisial penulisnya. Tidak perlu mengkhawatirkan keindahan sebuah kisah jika anda sudah menguasai betul materi anda.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

Karakter pengarang
Soal karakter penulis, ada perbedaan ruang antara karakter tokoh dan karakter tulisan. Kalau karakter tulisan akan tumbuh seiring jam terbang dan pengalaman dalam menulis. Akan muncul ciri pengkaryaan personal mengenai cara mengeksekusi kalimat, pemilihan diksi, terlebih langgamnya. Hanya muncul jika punya keberanian dalam menghadapi persoalan dalam tiap tulisannya.

Ini mirip seperti permainan bola, ada aturan yang sama antar pemainnya. Akan tapi gaya Messi, Ronaldo, atau Totti tentu berbeda. Masing-masing dari pemain itu punya perbedaan dalam mengeksekusi skill dan mengakali aturan main.

“Kalau Phutut gimana?”

“Belum punya karakter, punya penggemar, cuma sedikit.”

“Jika sudah terbiasa nulis,” dia melanjutkan, “akan muncul karakter dan karakter itu bisa membuat orang bukan hanya kena di logika, tapi dihatinya. Ini maqomnya sudah lain, makrifat, kenanya di hati.”

[Distraksi]
“Dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, bagaimana cara merangkai karakter tokohnya. Kok bisa dekat dengan tingkah laku sehari-hari pembacanya, bagaimana hal itu bisa terjadi?” saya bertanya.

“Itu karena saya mampu memahami umat. Anda pernah baca Di Bawah Bendera Revolusi? Itu kan seakan-akan semua orang dekat dengan Sukarno. Tentu karena Sukarno bisa memahami umat.”

Detail
HUSNA Farah: “Memang dari beberapa kelas sebelumnya, saya mulai memahami kaitan jurnalisme sastrawi dengan gaya fiksi. Gimana cara pendekatannya biar bisa bikin narasi yang bisa membawa pembacanya, seolah berada di lokasi kejadian?”

“Saya pikir yang paling mudah mencari orang yang mengalami itu. Misalnya saya mau menulis soal Gerakan Aceh Merdeka. Sekarang kan sudah enggak ada GAM. Sedangkan saya mau menulis deskripsi tentang pertempuran. Saya akan mencari orang yang pernah mengalami peran bertempur.”

“Sedangkan yang kedua mengenai tempatnya. Kalau memang bisa datang ke lokasi kejadian, ya lebih baik. Kadang-kadang subjek yang berada di lokasi sehari-hari tidak menangkap secara detail apa yang ada di sana, tak seperti orang yang punya tujuan tertentu.”

Misalnya begini—Puthut diam sejenak, matanya menyapu seisi ruangan, lalu menunjuk ke arah saya,  “Ada berapa kancing di baju yang sedang kamu pakai?”

Saya merespons dengan meraba bagian kancing.

“Nah, dia langsung memeriksanya ulang. Orang-orang itu biasanya untuk detail-detail itu biasanya lupa. Itu dilema dekat-jauh. Kadang orang yang mengalamai itu, karena terlalu dekat dengan objek, dia tak menganggap itu sebagai sesuatu yang penting. Kita yang berada di tempat yang jauh malah menganggap sebagai hal yang penting.“

Puthut mensiasati detail di lapangan, misalnya, dibantu dengan kamera. Dokumentasi visual bisa membantu memperkaya tulisan.

[Distraksi]
Taufiqul Hakim: bagaimana cara menyerang sisi psikologis pembaca.

“Hanya dengan kekuatan kata-kata. Agar mudah dingat dan masuk ke imajinaisi pembaca, gimana cara membentuknya?” ujar Puthut, lantas menjawab sendiri, “Pertama, sebelum menulis, harus berdoa.”

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

Mencicil karakter
Penggambaran atau karakter tokoh utama, belum tentu diceritakan lewat tokoh utama itu sendiri. Biar tidak monoton, membangun karakter tokoh utama bisa melalui tokoh-tokoh yang lain. Misalnya tokoh pertama diceritakan 60 persen, ada sisa 40 persen. Taruhlah, ada 4 tokoh lain dalam cerita itu. Maka, porsinya, masing-masing dari 4 tokoh itu mendapatkan 10 persen cerita, 5 persen tentang dirinya, 5 persen lagi tentang tokoh utama, atau pertautan antara dia dan tokoh utama.

Misalnya dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, tokoh Annelies Mellema banyak diceritakan oleh Minke dan Nyai Ontosoroh. Tokoh Annelies ini porsi adegannya tak banyak, justru bisa didapatkan dari tokoh Minke.

Dan, tetap, tekanannya harus ada tokoh utama dalam cerita.

Mitos
Wisnu Prasetya bertanya seputar hal-hal yang menghambat kita lancar menulis, “Salah satunya, menulis sambil mengedit. Jadi tulisan enggak bisa keluar karena dalam pikiran, ‘kata ini enggak tepat, kalimat ini enggak pas.’ Ini sepertinya warisan buruk saat di pers mahasiswa terdahulu, proses editingnya yang ketat dan keras bikin kita semacam trauma dengan proses itu. Jadi ketika kita menulis, kita sekaligus mengedit dengan harapan tulisan ini nantinya tak harus diedit banyak nantinya.

Puthut menanggapi, “Kalau tidak bisa menyelesaikan tulisan, anda cukup pergi ke toko buku, atau ke toko bangunan, beli lem dua kilo. Itu kata Einstein. Caranya, tumpahkan lem itu ke kursi anda lalu anda duduk di atasnya. Maksudnya, supaya anda tidak pergi, hadapi problem dalam tulisan anda.

Sekali saja anda belajar menghindari persoalan dalam menulis, itu akan menjadi kebiasaan yang buruk dan berlanjut terus-menerus.

Kalau tulisan jelek, jangan kuatir. Selesaikan dulu lalu esoknya, rapikan kembali tulisan anda.

Itu persoalan mengalahkan diri sendiri. Persoalannya sudah religius.”

“Baru pada tahap selanjutnya, cobalah berjarak dengan tulisan anda sendiri. Mungkin bisa dilakuan perampingan, pengembangan, atau perubahan plot. Pilihan yang paling ekstrem adalah menulis ulang.

Hukumnya gini, anda perlu mengedit tulisan anda sendiri, tapi jangan lakukan ketika anda sedang menulis. Cukup tulis saja. Tulis. Bukan edit. Itu hukum pertamanya.

Jika dirunut lebih jauh, secara tahapan kerja dan metodenya, antara menulis dan mengedit itu berbeda. Dalam kerja mengedit, prinsip yang mesti dipegang editor, dia sebaiaknya jangan sampai menghilangkan karakter penulis. Sederhananya jangan sampai yang keluar adalah karakter editor. Harus dikenali betul karakter penulis.

Akan tapi untuk media umum biasanya karakter medianya yang muncul. Misalnya Tempo, itu bukan karakter penulisnya, tapi yang hadir karakter medianya.

Kerja editing juga, sepatutnya, dimulai sejak awal antara penulis dan editor ketika ide atau gagasan menulis itu muncul. Ada saling masukan, jadi sama-sama menguasai isu dan lapangan. Sejak konsep sudah ditemani oleh editornya.

Disiplin
Sewaktu belajar menulis, Puthut mengandalkan komputer milik rekannya. Dia tinggal di kost di daerah utara, rekannya di daerah Saudagaran. Jarak kedua tempat itu sekitar 10 km.

Ketika pukul 7 malam, dia menuju kost rekannya. Sampai sana dia menunggu rekannya tidur. Dengan begitu dia akan bebas meminjam komputer untuk belajar menulis, menghabiskan waktu empat sampai delapan jam.

Sebagian masa mudanya pernah dia habiskan dengan mendisiplinkan diri, menulis 3.000 ribu kata secara rutin dalam 6 bulan berturut-turut. Seorang yang memiliki sikap bahwa, kalau tak bisa menulis 3.000 kata dalam semalam, maka dia akan gagal sebagai penulis.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

Komunitas
Dulu pernah ada perdebatan beberapa budayawan. Sebagian dari mereka bilang kreativitas itu bisa diajarkan, sebagian yang lain bilang tidak. Kelompok Umar Kayam, paling tidak percaya jika kreativitas itu bisa diajarkan.

“Dia hanya bisa diberi habit, lingkungan, kondisi kreatif. Saya setuju jika yang diperlukan oleh orang-orang kreatif adalah lingkungan yang kreatif. Bukan pelajaran tentang kreativitas.”

Menurutnya, alasan adanya KBEA itu, ia memberikan lingkungan kreatif. Dan kalian—para peserta—tengah bersinggungan dengan komunitas kreatif dalam program kelas menulis ini.

*

Ditulis oleh Dieqy Hasbi Widhana, lelaki dari Jember yang jadi kerani pendengar setia selama kelas menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.