Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Menulis adalah aktivitas yang hampir mirip memasak. Selain keduanya membutuhkan kebiasaan, orang takkan peduli bagaimana cara Anda memasak, perjuangan Anda mendapatkan dan mengolah bumbu, hiruk-pikuk di dapur, dan sebagainya. Yang dinilai mula-mula dari hasil akhir masakan tersebut terutama tampilan serta rasanya. Seperti masakan, tulisan seseorang juga akan dinilai dari rasa (substansi tulisan) serta tampilan (struktur tulisan) yang tersaji.
Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

SESI KEDUA kelas menulis, Rabu, 18 Februari, dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal. Sesi ini membahas sembilan karya peserta yang sebelumnya dikirimkan ke panitia. Sebelum mendiskusikan karya-karya itu, para peserta terlebih dulu menceritakan tentang konteks serta kendala-kendala yang mereka hadapi ketika menulisnya.

Prayudha menceritakan reportasenya, “Meretas Pesantren dari Balik Jeruji.” Tulisan yang tayang pada2012 di majalah yang diterbitkan Pusham UII ini hasil reportasenya ke Pulau Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Yudha meliput aktivitas beberapa orang terdakwa terorisme. Di penjara, mereka mengajar agama seperti mengaji dan belajar bahasa Arab.

Ada banyak kendala yang dialami selama proses penulisan ini. Salah satunya, “Saya tidak bisa bebas menulis dan mengkritisi fakta-fakta yang saya temui di sana.” Karena sudah menentukan framing dengan beberapa pertimbangan sejak awal, sejumlah temuan yang dia dapatkan namun tak sesuai framing tidak dia tampilkan dalam tulisan.

Nadliful Hakim menjelaskan artikelnya mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku penuh Desember tahun ini. Dalam artikel yang ditulis guna kegiatan yang diadakan kampusnya, Nadlif mengupas tantangan  dan peluang yang akan dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

Brita Putri Utami menulis esai personal tentang keresahannya mengenai Bengawan Solo. “Warna air sungai berubah-ubah karena limbah pabrik. Kadang hijau, ungu cerah, pernah juga hitam pekat.”

Sebagai orang yang tinggal sejak kecil di tepi Bengawan Solo, Brita menyimak perkembangan yang menggelisahkan tersebut. Dalam tulisannya, ia melihat pelbagai peradaban manusia yang tidak bisa dilepaskan dari sungai, misalnya sungai Kuning di Cina dan Sungai Eufrat dan Tigris di Mesopotamia.

Husna Farah menulis pengalamannya sebagai muslim Ahmadi. Satu ketika di sekolahnya di Depok, ada “penyuluhan aliran sesat” oleh MUI dan beberapa pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Perwakilan dari MUI ini menyebut Ahmadiyah sebagai “contoh aliran sesat” dan pembahasan tentangnya mendominasi penyuluhan tersebut.

“Saya sudah tidak bisa tahan untuk tidak angkat tangan ingin menanggapi tuduhan-tuduhan tersebut,” tulis Farah.

Farah angkat tangan, mengatakan dirinya adalah anggota Ahmadiyah. Pembicara terlihat kaget dan pengakuan Farah itu juga mendapat respons dari teman-temannya di sekolah. Banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menunjukkan ketidaksukaannya.

Nia Aprilianingsih menceritakan reportase kajian soal sistem drainase yang terabaikan dalam perencanaan tata ruang kota. Reportase ini ditulis dalam majalah Ekspresi UNY. “Kendalanya, saya butuh waktu lama untuk mendalami isu drainase ini,” katanya yang studi Bahasa Indonesia. Dia mewawancarai beberapa ahli tata ruang kota dan sempat ikut seminar tentang pembangunan perkotaan.

Taufiqul Hakim, mahasiswa Sastra Nusantara UGM, menjelaskan latarbelakang artikel analisisnya dibalut resensi film pendek Broto Laras. Film ini tentang kesenian jathilan yang dulu sempat tenar namun perlahan mulai ditinggalkan masyarakat. Taufiq tak banyak membahas isi film, dia lebih membahas jathilan dan bagaimana industrialisasi hiburan semasa Orde Baru telah membuat kesenian ini kehilangan dimensi filosofis-spiritual.

Hamada Adzani Mahaswara menulis profil singkat Susetiawan—pengajar di jurusan Sosiatri UGM—untuk buletin Warta Alumni Fisipol UGM. Salah satu kendala yang dia hadapi adalah keterbatasan jumlah halaman sehingga dia tidak bisa mengeksplorasi tulisannya serta narasumber yang jawabannya pendek-pendek dan langsung. Mada penasaran dengan strategi memancing narasumber agar mau bercerita lebih banyak.

Ayu Tika Pravindias menulis kasus korupsi mantan gubernur Banten, Atut Choisyah. Meski pendek dan tak banyak mengeksplorasi korupsi sampai ke jantung permasalahan, Ayi menyisipkan kutipan dari novel Max Havelaar dalam tulisannya. Mahasiswi Fakultas Hukum UGM tingkat pertama ini kurang lebih ingin mengatakan bahwa di Banten, kasus korupsi terus terjadi sejak era kolonial sampai sekarang.

Menurut Wisnu, usaha Ayi menggunakan kutipan dari karya sastra menarik karena selama ini tulisan-tulisan dari para penulis yang berasal dari Fakultas Hukum biasanya kering dan membosankan. Buat para pembaca dengan latar belakang yang sama, mungkin tulisan macam itu bisa berguna. Tapi buat pembaca awam tentu bisa kehilangan maknanya. Wisnu lantas menceritakan salah satu kebiasaannya ketika menulis. “Saya mewajibkan diri membaca satu novel sebelum menulis tulisan serius seperti artikel jurnal.”

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

Rosy Dewi Arianti Saptoyo punya pengalaman menarik ketika melakukan reportase saat kegiatan sekolah HAM yang diadakan Kontras. Rosy dan teman-temannya diminta untuk melakukan liputan sengketa lahan antara warga dan Perhutani di dusun Sendi, Mojokerto. Kendalanya, “Reportase hanya dilakukan secara beberapa jam sehingga wawancara yang dilakukan susah diverifikasi ulang.”

Rosy bilang sebelum diterjunkan, dia belum diberi tahu tentang latarbelakang sengketa yang ada. Akhirnya di lapangan dia lebih banyak mencari data terutama kronologi sengketa yang sudah terjadi puluhan tahun itu. Dia kebingungan untuk mengawali dan mengakhiri tulisan reportase.

Dalam sesi tanya-jawab, Brita bertanya tentang berapa lama waktu reportase yang ideal untuk sebuah reportase mendalam. “Tergantung kecakapan penulis,” kata Fahri Salam.  Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika melakukan reportase di Papua. Fahri membutuhkan waktu tiga minggu untuk melakukan liputan tersebut. Tapi menurutnya ini terlalu lama karena mestinya bisa dilakukan kurang dari satu minggu.

Waktu yang lama tidak selalu bisa menjamin sumber yang didapatkan lebih mendalam. Misalnya saja di Papua. “Di sana ada bara terpendam yang disembunyikan di bawah karpet,” kata Fahri. Butuh ketekunan dan kesabaran untuk membuka bara terpendam tersebut.

Karena itu sebelum turun ke lapangan, penulis yang baik mesti bisa memetakan bagaimana cara untuk mendapatkan sumber-sumber yang kredibel agar bisa menjelaskan secara utuh tentang sebuah masalah yang akan diliput. Fahri menyebut nama Rusdi Mathari saat menulis reportase tentang kasus Syiah di Sampang, dia hanya membutuhkan sekitar tiga hari dan berhasil mewawancarai banyak narasumber yang padat informasi.

“Bagaimana cara memasukkan data-data geografis dan angka dalam sebuah tulisan namun tetap enak dibaca?” Mada bertanya.

“Ada dua jalur,” kata Fahri. Pertama dengan deskripsi narasi di awal. Data-data berupa angka nanti disisipkan di tengah tulisan dan strukturnya berselang-seling dengan narasi atas peristiwa yang dibangun penulis.

Kedua dengan rekonstruksi. Selain bercerita tentang peristiwanya, penulis selanjutnya memberi konteks historis atau sosial atau politik peristiwa tersebut. Data-data bisa ditempatkan di tengah tulisan sebagai sebuah tikungan. Reportase tentang Urut Sewu di Pindai bisa menjadi contoh bagaimana membingkai data dengan lebih mengalir.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

*

Ditulis oleh Wisnu Prasetya Utomo, moderator-cum-kerani kelas menulis KBEA

Leave a Reply

Your email address will not be published.