Pengumuman Peserta Kelas Menulis KBEA

ADA lebih dari 50 pelamar yang mengajukan aplikasi untuk kami seleksi mengikuti kelas menulis saat pendaftaran dibuka selama 10 hari. Sebagian besar dari Yogyakarta, tapi ada juga dari Sragen, Solo, Malang, dan Jember.

Pertimbangan kami, selain dari kualitas tulisan, kami menilai dari motivasi dan latarbelakang organisasi calon peserta. Hal penting lain ruang belajar yang terbatas. Kami menginginkan kelas ini nantinya dapat berjalan efektif, setidaknya dari ukuran itu kami menyeleksi para peserta yang sudah selesai dari sekadar bisa menulis. Continue reading Pengumuman Peserta Kelas Menulis KBEA

Gaya Hidup Bahagia

Saya sering membaca artikel tentang bagaimana gaya hidup sehat di berbagai media massa. Semua mirip. Intinya ya kira-kira menyarankan agar rutin berolahraga, menjaga pola makan, menghindari stres, dll.

Kami di KBEA memiliki konsep sendiri, dan tentu konsep itu belum final. Kami sedang mengusahakan sebuah komunitas dengan ‘gaya hidup bahagia’. Apa itu? Bagaimana kira-kira praktiknya?

Kami percaya bahwa setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi kadang kala pencarian itu tertutupi pencarian lain: mencari uang, mencari ketenaran, mencari pangkat dan jabatan, dll. Sekali lagi mencari itu semua bukannya tidak boleh. Tapi kerap kita mengorbankan pencarian akan kebahagiaan. Kemudian yang terjadi kebahagiaan berusaha ‘ditemukan’ dengan cara yang berbeda: belanja, pesta, wisata. Lagi-lagi bukan berarti itu tidak baik. Ini bukan soal baik atau tidak. Continue reading Gaya Hidup Bahagia

Kode, Karakter, Evaluasi

Disclosure: kami takkan banyak mengulas tentang diskusi kelas hari ketiga (mempelajarai karakter situsweb) dan hari keempat (teknik mengoptimalkan mesin pencari/ SEO). Narasi ini dibuat (dengan sengaja) untuk Adit semata, pengajar Kelas Digital dari dua pengajar lain yang sudah kami tulis sebelumnya. Detail materi kelas, bagi yang tertarik, bisa ditengok di sini.
KBEA/ Eko Susanto

ADITYA Rizki Yudiantika, anak muda yang paling kalem di Komunitas Bahagia, datang 30 menit sebelum kelas digital hari ketiga dimulai. Dari caranya dia menyapa, kita segera mengenali sesuatu yang melekat pada dirinya. Dari 99 asma Allah, dan karakter khas manusia pada 7 milyar penduduk di dunia, Adit memiliki senyum yang melimpah-limpah segampang makhluk bumi menggandakan diri. Dia selalu melempar senyum saat kali pertama kita menyapanya, dan senyum itu selalu dia bawa sepanjang kita mengobrol dengannya. Inilah ciri pembeda antara senyum Adit dan senyum Rifqi, sesama kolega di Komunitas Bahagia dengan julukan “taipan media” dari rekan kriminal lawasnya, yang senyum itu oleh Rifqi difungsikan untuk menjerat hati perempuan. Adit kasus lain sekaligus unik.

Jika kini artikel-artikel di media sosial yang mendatangkan pageview dalam bentuk panduan atau tips, hasil termudah dari imajinasi manusia tak terhingga dari warisan Newton yang gemilang, maka khusus untuk Adit, perkaranya ada pada momentum dan ironi. Continue reading Kode, Karakter, Evaluasi

Jurnalistik, Menulis, dan Sedikit Hal Lain

Di Fakultas Filsafat UGM, jamak satu mahasiswa ikut lebih dari satu kegiatan. Bahkan bisa tiga. Kalau ikut Pantharei (pencinta alam), biasanya ikut juga Pijar (pers kampus). Atau kebalikannya.

Saya tidak. Saya hanya aktif di satu unit kegiatan kampus: Retorika. Semacam unit kegiatan seni. Ketika kelak kemudian sudah lama meninggalkan kampus, saat bertemu adik angkatan maupun orang lain fakultas, mereka sering bertanya dengan nada seakan saya dulu aktif di kegiatan pers.

“Dulu di Pijar angkatannya siapa, Mas?”

“Dulu aktif di B-21 berapa tahun, Mas?”

Biasanya saya jawab dengan jujur kalau saya tidak pernah aktif di kedua lembaga tersebut. Kadang sudah dijelaskan begitu, masih ada yang bertanya: Lha kok bisa jadi wartawan? Continue reading Jurnalistik, Menulis, dan Sedikit Hal Lain

‘Apa yang saya bicarakan di kelas digital yang tidak saya dapatkan ketika kuliah filsafat’ 

IMG_3493
KBEA/ Eko Susanto

SEORANG karibnya sesama studi filsafat di Universitas Gadjah Mada menyebutnya “taipan media.” Itu adalah sanjungan, sebaliknya adalah lelucon gelap bagi si karib. Mereka pernah bertemu di Jakarta sesudah yang satu berhasil selamat dari ‘dancing out,’ bekerja sebagai wartawan dengan membawa kisah asmara yang pahit, untuk mendapati kenyataan bahwa kemudian media tempatnya bekerja hanya berumur sekedipan mata.

Rifqi Muhammad, seperti biasa, selalu menanggapi sanjungan macam itu dengan senyuman; satu jenis senyum yang telah melelehkan lusinan perempuan, terutama dari kalangan hijaber,  seakan-akan jenis senyum itu datang dari rahasia Tuhan yang membuat seekor harimau Jawa mencair menjadi mentega. Si karib, Beni Satryo, seperti biasa pula dengan gaya yang landai—frase yang selalu dia gemari diproklamirkan—sumringah betul seakan telah menemukan keajaiban Tuhan. Mereka, dari saksimata yang berhari-hari kemudian menceritakan pertemuan karib lama itu kepada saya, segera berpelukan. Mereka bertemu di salah satu kantong seni di jantung kota Jakarta. Continue reading ‘Apa yang saya bicarakan di kelas digital yang tidak saya dapatkan ketika kuliah filsafat’