Proyek Bank Visual

Salah satu kendala di dalam membuat proyek rintisan digital adalah soal ilustrasi, baik berupa foto maupun produk visual lain. Membuat konten saja persoalan, ilustrasi juga menambah persoalan.

Sehingga kadang banyak media rintisan yang mengambil ilustrasi sembarang di internet. Padahal bisa jadi gambar tersebut punya hak cipta, yang bisa berdampak pada persoalan hukum. Continue reading Proyek Bank Visual

Unduh Gratis Buku Dunia Kali & Kisah Sehari-hari

dunia-kali

 

“Mungkin Puthut berbeda jauh dengan Don Corleone, tapi untuk urusan keluarga, ia punya prinsip yang sama dengan sang Don: “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”

Sebagai seorang lulusan filsafat (yang lagi-lagi masih sering saya ragukan kefilsafatannya), Puthut tentu sadar benar, bahwa kehidupan adalah momok yang keras dan kejam, ia tega menggampar siapapun dengan rutinitas yang luarbiasa sibuk dan bergegas. Namun ia juga sadar, bahwa menghabiskan waktu bersama keluarga adalah jalan keluar yang ampuh untuk mangkir dari rutinitas yang serba bergegas. Ia mampu melakukannya. Dan hebatnya lagi, ia juga mampu untuk menuliskannya. Mungkin bagi Puthut, menuliskan cerita tentang keluarganya (terutama anak semata wayangnya) adalah cara yang paling tepat untuk menggampar balik si “kehidupan” yang keras dan kejam itu.”

— Agus Mulyadi, blogger kondang asal Magelang yang sudah menulis tiga buku. Continue reading Unduh Gratis Buku Dunia Kali & Kisah Sehari-hari

Bintang-Bintang di Lapangan Sale

Nody masih tidur nyenyak ketika Kang Eko datang dan Rifqi membawa bungkusan soto ayam. Mendengar orang membuka pintu, Nody terbangun kaget dan langsung misuh: “Cuk, aku lagi ngimpi bareng cewek durung tuntas kok wes do teko.” Masih sambil misuh Nody ingin melanjutkan mimpinya di kamar mandi. Saya meh ngguyu tapi karena tahu rasanya mimpi yang belum tuntas karena dibangunkan paksa, terus gak jadi. Cukup mesem saja. Setelah itu Fahri dan Aditya datang.

Jam 08.00, kami berangkat menuju Rembang, tepatnya di kecamatan Sale. Selama seminggu, KBEA akan mengisi pelatihan menulis dan membuat web di sana. Rifqi sebagai kapten rombongan sudah memberi aba-aba, perjalanan dengan mobil L300 ini akan ditempuh dalam waktu 6 jam melalui Ngawi. Mendengar arahan simbah badan ini rasanya sudah kemretek, membayangkan kondisi jalan yang gronjal-gronjal. Huh. Semua tertidur pulas, kecuali Nody yang sibuk main wassap dengan beberapa, ah sudahlah.

Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.
Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.

Continue reading Bintang-Bintang di Lapangan Sale

Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Kelas membincangkan sejumlah tugas menulis reportase; ditutup evaluasi.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

HUSNA FARAH, peserta kelas menulis KBEA, membacakan narasi yang dia tulis tentang salah satu masalah sosial di tempat kelahirannya di Depok, Jawa Barat. Dia menulis dari sudut dunia kecil subyek, kisah keluarga miskin tapi memiliki 9 anak, sehingga pasangan itu kerepotan membesarkan salah satu anaknya. Kemudian si anak diserahkan kepada keluarga yang bersedia mengadopsinya yang merawatnya dengan baik—tiada membedakan antara anak kandung sendiri. Pasangan itu—dekat dengan kehidupan Farah–berjanji takkan memisahkan si anak dengan ibu kandungnya sendiri.

Konflik emosional muncul setelah si anak makin tahu latarbelakang keluarganya. Dalam jalinan pelik dunia orang dewasa, si anak mulai tidur di rumah orangtuanya, “sebuah wilayah perkumpulan pemulung di daerah Depok.” Dia akan bangun subuh hari, lalu pergi ke rumah orangtua angkat, pergi ke sebuah sekolah dasar, bermain hingga petang, dan malamnya kembali ke rumah ibunya. Continue reading Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

“KARAKTER dan plot itu seperti al-fatihah—induknya al-Quran,” Puthut EA melontarkan renik ayatnya dalam satu tausyih malam Jumat dengan para peserta Kelas Menulis KBEA.

Diskusi berselang di sebuah kedai kopi Phoenam, bilangan Kaliurang km 5,6, di bawah penerangan temaram. Di sebuah tembok kedai, terpajang pigura kliping iklan media cetak tempo doeloe, di bagian lain ditempeli aksara Mandarin. Suasananya sepi. Sesekali terdengar derum kendaraan dari jalan raya, sekitar sepuluh meter dari ruang diskusi. Phoenam berasal dari kata Mandarin, Pho Nam’, artinya ‘terminal selatan’, persinggahan sementara. Typografi logonya antarsatu huruf dijajar linear. Huruf ‘P’ bersapu warna hitam, lainnya hijau muda.

Puthut memulai dengan pertanyaan, “Siapa yang belajar menulis untuk bagian dari skill kehidupan atau sebagai pekerjaan?” Continue reading Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal