Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

“KARAKTER dan plot itu seperti al-fatihah—induknya al-Quran,” Puthut EA melontarkan renik ayatnya dalam satu tausyih malam Jumat dengan para peserta Kelas Menulis KBEA.

Diskusi berselang di sebuah kedai kopi Phoenam, bilangan Kaliurang km 5,6, di bawah penerangan temaram. Di sebuah tembok kedai, terpajang pigura kliping iklan media cetak tempo doeloe, di bagian lain ditempeli aksara Mandarin. Suasananya sepi. Sesekali terdengar derum kendaraan dari jalan raya, sekitar sepuluh meter dari ruang diskusi. Phoenam berasal dari kata Mandarin, Pho Nam’, artinya ‘terminal selatan’, persinggahan sementara. Typografi logonya antarsatu huruf dijajar linear. Huruf ‘P’ bersapu warna hitam, lainnya hijau muda.

Puthut memulai dengan pertanyaan, “Siapa yang belajar menulis untuk bagian dari skill kehidupan atau sebagai pekerjaan?” Continue reading Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Laki-Laki yang Disalahpahami

Seandainya Nody memiliki ketrampilan berbicara, saya yakin dia akan seribu kali lipat membuat geger dunia. Tuhan menjaganya dengan memberi ‘pagar’ di lidahnya. Nody tidak cakap bicara.

Di komunitas KBEA, hanya Nody yang kalau tidak dibilang mirip Nicholas Saputra ya dibilang mirip Rivaldo. Orangnya pendiam, suka baca buku, dan makannya banyak. Idola para perempuan. Continue reading Laki-Laki yang Disalahpahami

Sepakbola

Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia. Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup.

Saya merasa sudah bekerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. Setiap sore selepas ashar sampai magrib saya selalu bermain bola di lapangan dekat rumah. Kalau sedang tidak ada yang bermain, saya berlatih sendirian di halaman depan rumah yang hanya seluas lapangan badminton. Oh iya, bolanya bola plastik. Saya sering mencetak gol dengan tendangan pisang ala David Beckham. Kalau cuaca tidak memungkinkan saya bermain sendirian di dalam rumah menggunakan bola kasti. Kelas 5 SD saya sempat bergabung dengan sekolah sepakbola di Salatiga, agak jauh dari rumah. Karena Bapak yang setiap sore mengantar kecapekan, saya disuruh berhenti setelah dua minggu berlatih. Sedih. Setidaknya sudah bisa melihat Bambang Pamungkas sebelum ia bergabung dengan klub di Belanda. Saya pindah ke sekolah sepakbola di dekat rumah. Continue reading Sepakbola

Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Menulis adalah aktivitas yang hampir mirip memasak. Selain keduanya membutuhkan kebiasaan, orang takkan peduli bagaimana cara Anda memasak, perjuangan Anda mendapatkan dan mengolah bumbu, hiruk-pikuk di dapur, dan sebagainya. Yang dinilai mula-mula dari hasil akhir masakan tersebut terutama tampilan serta rasanya. Seperti masakan, tulisan seseorang juga akan dinilai dari rasa (substansi tulisan) serta tampilan (struktur tulisan) yang tersaji.
Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

SESI KEDUA kelas menulis, Rabu, 18 Februari, dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal. Sesi ini membahas sembilan karya peserta yang sebelumnya dikirimkan ke panitia. Sebelum mendiskusikan karya-karya itu, para peserta terlebih dulu menceritakan tentang konteks serta kendala-kendala yang mereka hadapi ketika menulisnya. Continue reading Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Bisnis

Saya sering bertemu dengan banyak teman yang ingin punya usaha. Berbisnis, begitu bahasa mudahnya. Tapi hampir semua yang saya temui belum punya sikap mental dalam berbisnis.

Pertama, kebanyakan dari mereka terlalu lama berpikir. Mau bikin warung kopi saja, ada teman saya yang mikirnya sampai 8 tahun. Sudah bertemu saya belasan kali, setiap ketemu obrolannya masih sama: konsep warung kopi. Dan banyak yang seperti itu, ada yang sudah 2 tahun mikir bisnis, ada yang 4 tahun, dsb. Itu mau bikin teori baru atau mau bisnis… Saya terus terang bingung.

Kedua, tidak mau rugi. Bisnis itu ya seperti usaha yang lain, punya kemungkinan berhasil tapi juga punya risiko rugi. Tapi banyak teman saya yang mikir bisnis kemudian tidak segera dieksekusi karena menghitung ada kemungkinan rugi. Sampai jebol pikiran mereka ya pasti tidak akan menutup peluang terjadinya kerugian. Hukum alamnya demikian. Continue reading Bisnis