Mata-mata

Banyak dari kita tentu sepakat saat-saat berak adalah saat-saat sunyi yang sublim. Hening yang kadang sedikit terganggu suara gemericik air, datangkan bermacam khayalan, menyerbu kepala secara simultan. Sering ilham datang bersamaan dengan aktivitas mengejan.

Itu baru di kamar mandi, atau di toilet umum. Bagaimana jika di tengah hutan, dikepung rerimbunan tanaman, ditemani suara bermacam hewan?

Saya pernah merasakannya saat bertugas di Hutan Bukit 12. Selama tinggal di sana, konsep WC begitu ramah lingkungan. Jika hendak berak, kita harus pergi ke hutan, menggali tanah hingga kedalaman setidaknya 30 sentimeter untuk lubang kakus, berak, lalu menutup kembali lubang tersebut. Kotoran kembali terurai di alam.

Maka, semasa di rimba, waktu-waktu berak adalah waktu yang paling sakral untuk saya. Saya akan melakukan persiapan dengan matang. Pergi ke sungai, mengisi air ke dalam botol air mineral bervolume 1,5 liter, mengambil parang untuk menggali lubang, membawa buku tulis dan pena, kemudian pergi ke hutan yang berjarak cukup jauh.

Saat berak, bermacam konsep mendatangi ruang khayal. Inilah alasan saya membawa buku tulis dan pena, untuk mencatat semua yang berdatangan itu. Selama bertugas di rimba, saya punya catatan khusus bertema ‘Catatan dari Ladang Pembinggukon’ (Bingguk=berak, pembinggukon=tempat berak).

Murid-murid di Sokola Rimba tentu tahu saat saya sudah menenteng sebotol air, membawa parang dan buku tulis dan pena. Pasti hendak berak. Dasar mereka usil, kerap mereka mengintil saya yang hendak berak. Jika ketahuan, tentu saya mengusir mereka. Jadi, tiap kali hendak berak, saya mengawasi sekitar dahulu sebelum memulai ritual menyenangkan tersebut.

Sekali waktu saya kecolongan. Saat saya sudah menemukan tempat yang begitu nyaman di tengah hutan, dengan pohon sekitar begitu rimbun, dan sebatang kayu tumbang tempat bertumpu kedua kaki, saya mulai menggali lubang. Membuka celana. Jongkok. Membakar kretek. Lalu berak. Tetiba Becayo (salah seorang murid Sokola Rimba) mencungul di hadapan saya.

“Sudah mulai, guding?” Tanya Becayo.

Sembari menahan kesal saya menjawab, “Rajo penyakit, kenapa kawan ke sini? Kurang ajar! Pulang!”

“Santai aja dah, biar kawan nggak kesepian, aku temanin. Kita ngobrol-ngobrol sembari kawan bingguk.”

Tentu saja percakapan kami dalam bahasa rimba. Sepanjang ritual, kadang sembari mengejan, saya memaki Becayo. Ia tertawa, tertawa puas, puas sekali. Berhasil memata-matai saya, mengintai, dan kemudian muncul di saat yang paling tepat, di saat saya tidak berdaya untuk sedikit saja bergerak mengancam Becayo agar lekas enyah dari hadapan saya. Ia menghantam saya begitu telak.

Jika diibaratkan pertandingan sepak bola, Becayo berhasil mencetak gol di menit-menit akhir pertandingan lewat cara yang begitu indah, tendangan pelan saja berbentuk parabola ala Panenka yang tak bisa dijangkau kiper. Bedanya, Panenka melakukan itu saat pinalti, Becayo tidak, ia melakukan itu saat open play. Saat saya semestinya menikmati aktivitas mengejan.

– ditulis oleh Fawaz

Leave a Reply

Your email address will not be published.