Kisah Sebuah Buku

Sejak “Arus Balik” diterbitkan pertama kali oleh Hasta Mitra pada 15 Agustus 1995, saya bertekad ingin memilikinya. Tapi apa daya, keinginan itu terpendam begitu lama karena pada masa itu, saya hanyalah seorang anak jalanan; seorang pedagang kakilima di Malioboro.

Seorang pedagang liar yang memanfaatkan trotoar untuk mencari nafkah hidup dari pada maling. Saya sebut liar, karena saya tidak punya tempat tetap. Dagangan yang saya jual adalah kerajinan berbahan tulang, reflika asesoris yang dipakai suku Indian seperti kalung, gelang, sabuk juga ikat rambut terbuat dari bulu, khas suku-suku Indian.

Saya menggelar lapak jika ada tempat trotoar kosong, yang pemiliknya tidak sedang berjualan.
Pernah dalam seminggu, saya tidak bisa menggelar dagangan karena pemilik tempat membuka lapak semua. Apalagi pas musim liburan. Kebayangkan, gimana mau beli buku, nggo madyang wae susah, gaess. Beruntungnya saya punya banyak teman. Jadi gak bakal kelaparan, masih bisa udud, masih bisa mendhem di Pajeksan.

Saya bisa membeli buku “Arus Balik” pada tahun 2001, sudah cetakan ke IV. Setelah 7 tahun mimpi kepingin punya bukunya Pram.

Buku itu bisa terbeli berawal dari saya dan beberapa kawan PURPALA (Pura-pura Pecinta Alam) mendaki Semeru. Saat itu saya pinjam Nikon FM 2 milik Ari Kurniadi. Ari kuliah fotografi di ISI dan teman saya satu sanggar di Nitiprayan. Tetapi Ari tidak ikut ke Semeru.

Singkatnya, saat saya dan kawan-kawan baru saja sampai puncak Mahameru, pada jam 8 pagi, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam kawah. Kami bukannya lari, tapi saya menyuruh kawan-kawan saya untuk berpencar tapi membelakangi kawah. Sedangkan saya mundur jauh untuk mendapatkan gambar kawan-kawan saya berlatar letupan asap, karena lensa yang nemplok di kamera hanya 35-70 mm, lensa bawaan Nikon FM2 milik Ari.

Saya dapat lima jepretan dan kami segera turun karena cuaca sangat dingin. Mungkin kami berada di puncak sekitar 15 menitan. Saat turun, Agus salah satu kawan saya, ngremusi lempengan es tipis di Arcapada, yang letaknya di bawah Mahameru. Saat itu memang dingin banget, gaess.

Sampai Ranupane, kami nebeng truk menuju Desa Banteng, dan turun menyusuri lembah Gunung Widodaren, berjalan kaki di padang rumput kaki gunung Watangan, menyusuri lautan pasir. Berhenti sejenak di Pura Bromo untuk memotret. Lalu lanjut naik ke Pananjakan. Menjelang magrib kami membuka tenda di lereng Pananjakan yang rimbun, menjauh dari keramaian para pemburu sunrise. Padahal, saya juga sebenarnya membutuhkan foto letupan Semeru usai subuh.

Saat itu seingat saya bulan September 2001. Tanggalnya saya lupa. Saat sudah balik di Jogja, saya ke lab fotonya pak Heri di Ngampilan untuk kontakprint 12 rol film dari Semeru, agar bisa dengan mudah memilih, mana yang akan dicetak ukuran besar.

Sedangkan kawan saya yang lain, Puthut Ea menuliskan kisah pendakian kami ke Semeru untuk dikirim ke Kompas. Setelah tulisan PEA selesai, diprint dan saya melampirkan 4 foto ukuran 10 R yang saya cetak di tempatnya Pak Heri ke dalam sebuah amplop besar.

Seminggu kemudian tulisan berjudul “Menjamah Singgasana Para Dewa” dimuat Kompas, September 2001. Tanggale aku lali. Dari 4 foto yang saya kirimkan ke Kompas bersama tulisan itu, dimuat 2 foto. Satu foto letupan di puncak dan satu foto lanskap Semeru dari Pananjakan. Aku lali disek sapa redaktur fotone Kompas; ARB po Julian Sihombing almarhum. Ning matur nuwun banget, karena foto itu menjadi titik pijak penting kecintaan saya pada fotografi hingga sekarang.
Di saat itulah saya merasa nganu. Suenenge ppuolll.

Saat Kompas menerbitkan tulisan itu, PEA sedang pulang ke Rembang, libur kuliah atau apa saya lupa, kenapa saat itu dia pulang ke Rembang.
Saya beri tahu dia via sms (disek rung ana wa, gaess, HPku wae iseh Seimen C35 wkwkwk) kalau tulisannya dimuat Kompas.
Beberapa hari kemudian, honor dari Kompas, cair.

Penulisnya masih di Rembang, saya berangkat ke Shoping beli “Arus Balik.”
Saya sms dia dan bilang; duite tak nggo tuku arus balik disek ya…
Dia jawab: ya, kang. Entuk pira?
Saya jawab: 600. Kayane tulisane patangatus, fotone diregani satus siji. Fotone dimuat 2.
Mantab! Balas dia.

Saya baca “Arus Balik” sampai duakali saking senangnya. Impian sejak tahun 1995 memiliki “Arus Balik” akhirnya kesampaian walaupun sudah cetakan ke IV tahun 2001. Yang menyenangkan, belinya dari uang hasil motret. Hobi yang sekarang bisa dibilang jadi kerjaan juga.

Buku itu merupakan sebuah impian dan tekad yang berhasil saya raih. Saya jadi ingat kata-katanya Anggun C Sasmi dalam sebuah acara talk show di tivi. Dia bilang; kalau mimpi ya segera bangun, jangan tidur lagi. Raih dan wujudkan mimpi itu jadi kenyataan.

Nanti malam jika ada yang berminat, silakan datang ke Warung MOJOKsebelum sesi kedua donasi buku. Saya akan lelang “Arus Balik” untuk donasi saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan Sigi. Lelang dimulai dari nominal 10.000,-

Usai donasi sesi kedua juga ada diskusi bukunya Cak Rusdi yang berjudul “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan.”

Mau koleksi Arus Balik? Ayo kita ngopi di warmo sambil bergembira dan berbagi. Ada kopi munduk yang cihui buat teman ngobrol

– ditulis oleh Eko Susanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.