Jurnalistik, Menulis, dan Sedikit Hal Lain

Di Fakultas Filsafat UGM, jamak satu mahasiswa ikut lebih dari satu kegiatan. Bahkan bisa tiga. Kalau ikut Pantharei (pencinta alam), biasanya ikut juga Pijar (pers kampus). Atau kebalikannya.

Saya tidak. Saya hanya aktif di satu unit kegiatan kampus: Retorika. Semacam unit kegiatan seni. Ketika kelak kemudian sudah lama meninggalkan kampus, saat bertemu adik angkatan maupun orang lain fakultas, mereka sering bertanya dengan nada seakan saya dulu aktif di kegiatan pers.

“Dulu di Pijar angkatannya siapa, Mas?”

“Dulu aktif di B-21 berapa tahun, Mas?”

Biasanya saya jawab dengan jujur kalau saya tidak pernah aktif di kedua lembaga tersebut. Kadang sudah dijelaskan begitu, masih ada yang bertanya: Lha kok bisa jadi wartawan?

Sik, sik.. Aku iki wartawan media endi, Rek? Akhirnya terpaksa menjelaskan lagi dan lagi, bahwa saya bukan wartawan. Saya ini penulis. Kalau ada orang yang sudah bertanya seperti itu, saya tidak akan memberi kesempatan kepadanya untuk bertanya lebih lanjut. Biasanya saya akan mengalihkan persoalan.

Soal wartawan dan penulis, saya punya pengalaman yang menguntungkan. Suatu istri saya mengurus pernikahan di KUA di salah satu KUA di Jakarta Selatan. Sewaktu ditanya petugas pengisi blangko soal profesi saya, istri saya menjawab: penulis.

Petugasnya menjawab: O, wartawan ya, ujarnya sambil terus mengisi. Istri saya hanya diam. Dan sim salabim, salah satu KUA yang terkenal paling mahal itu tidak mau memberi tarif. Takut ditulis wartawan, kata Si Bapak Petugas itu.

Saya belajar jurnalistik secara otodidak karena tuntutan pekerjaan. Saya sering melakukan penelitian lapangan. Pekerjaan satu ini mensyaratkan punya ketrampilan dasar jurnalistik karena harus menemui orang dan harus wawancara. Harus pula melakukan validasi, kroscek, konfirmasi dll. Disiplin kerja jurnalistik harus dikuasai. Kalau tidak, maka tidak mungkin bisa menjadi seorang peneliti lapangan yang baik.

Saya paling menikmati profesi saya itu karena bisa membuat saya pergi ke berbagai daerah di Indonesia. Pekerjaannya juga menantang. Bedanya dengan jurnalis, kalau peneliti lapangan kerja di wilayah yang ‘berbahaya’, maka keselamatannya lebih tidak terjamin dibandingkan dengan seorang jurnalis. Kesadaran dan kewaspadaan itu harus muncul terus. Jadi jangan heran, untuk proyek-proyek tertentu yang dianggap berbahaya, seorang peneliti diminta membuat perjanjian khusus dan dipersilakan membuat surat wasiat.

Produk akhir seorang peneliti lapangan sama dengan jurnalis: tulisan. Jadi seorang peneliti lapangan harus bisa menulis. Kalau seorang jurnalis diterjunkan di lapangan, bisa dipastikan dia pasti bisa menulis. Tapi saya sering menemui para peneliti lapangan yang hebat, mampu menembus medan-medan sulit, menemukan data yang susah, tapi tidak bisa diterima hasil penelitian mereka atau tidak maksimal, hanya karena mereka tidak bisa menulis. Ini persoalan besar. Sebab biasanya ketika ada perekrutan proyek yang diminta bukan bukti produk tulisan melainkan CV. Maka seperti sia-sialah berminggu-minggu mereka berada di lapangan, mengatasi banyak hambatan, melewati sekian rintangan, tapi begitu berada di depan layar komputer mejen, tidak ada yang ditulisnya selain pokok-pokok kalimat.

Persoalan menulis kata banyak orang adalah persoalan mudah. Menurut saya, tidak. Saya sudah sering satu tim dengan banyak latar belakang. Kaya pengalaman dan banyaknya titel, tidak akan otomatis terus bisa menulis. Anda boleh punya pualam yang berkualitas tinggi, tapi belum tentu bisa menjadikannya patung yang indah. Orang hanya punya kayu jelek berkualitas buruk, tapi bisa membuat karya seni yang bagus. Kira-kira begitulah penggambaran ekstrem antara orang yang bisa menulis dan yang tidak bisa menulis.

Menulis, hemat saya, pertama kali berguna bukan karena hasil ketrampilan itu semata. Bukan. Dia berguna utama karena ‘membantu menstrukturkan cara berpikir kita’. Mudahnya, kalau otak Anda ruwet, maka tulisan Anda pasti ruwet. Agar otak kita bisa lebih sistematis, biasanya bisa dibantu dengan cara menulis yang benar. Walaupun menulis bukan satu-satunya cara. Ada banyak. Dulu kalau Anda ingat, ketika menjawab soal Fisika, kita harus membuat sistematika: Diketahui, ditanya, jawab. Kalau jawaban benar tapi ‘diketahui’ dan ‘ditanya’-nya salah, maka semua jawaban salah. Kalau ‘diketahui’ benar, ‘ditanya’ juga benar, dan ‘jawab’-nya salah, maka kita tetap mendapatkan nilai. Cara itu juga membantu kita lebih sistematis dalam berpikir.

Nah, ketika KBEA merancang workshop menulis, kami tahu bahwa beban kami bukan sekadar yang tampak: bisa membantu agar seseorang bisa lebih terampil dalam menulis. Kami sadar bahwa pekerjaan besarnya ada pada apa yang tidak tampak. Maka sistem workshopnya diolah dengan serius dan semoga bisa memberikan hasil yang baik.

Bagi Anda yang tertarik, sila mendaftar melalui tautan ini.

ditulis oleh Puthut EA

2 Februari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.