Ilmu Perhitungan, Insting, & Kesejahteraan

Kata ‘sejahtera’ seringkali kita pakai ketika memilih pemimpin atau dalam menentukan apa yang hendak dicapai dalam menyusun tujuan kehidupan bersama. Termasuk di komunitas kita.

Di Buku Mojok misalnya visi yang disepakati oleh teman-teman di eksekutif dan komisaris meletakkan ‘kesejahteraan’ sebagai visi.

Namun, dalam prakteknya kita sering abai dan lupa untuk mewujudkannya atau sekadar menjadi pemanis saja. Bahkan untuk membayangkan ‘sejahtera’ seperti apa yang dimaksud tidak bisa menjelaskan dengan baik.

Bila ditelisik arti katanya sejahtera berartib aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Ya, benar seperti itu memang adanya. Tapi seperti apa wujudnya dan bagaimana cara mencapainya?

Kita acapkali gagap menjelaskan. Tidak bisa tahu langkah-langkah apa yang perlu dilakukan.

Kapan hari saat jalan-jalan bersama Mujib, saya pernah bertanya kepadanya, ingin punya rumah di Yogya kah? Pengin. Saya juga sama. Namun, keinginan hanyalah keinginan. Kami sama-sama ketawa karena kepala kami langsung terbayang harga tanah dan rumah di Yogya. Otomatis di pikiran kami terbayang dengan pendapatan bulanan kami. Ah, kok jauh ya. Tidak tergapai.

Di sinilah ilmu perhitungan masuk untuk memberi penjelasan. Membuat angan-angan itu menjadi mungkin.

Saya diingatkan tentang peran ilmu perhitungan secara praktis dan penerapannya oleh Pak Roem dan Pak Mochtar di Insist beberapa hari lalu, ketika kami mengaji Small is Beautiful kepada mereka.

Pak Mochtar, ia mengelola Gramin Bank. Secara konsep bank mirip apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, peraih Nobel Ekonomi, yang mengaku belajar di Indonesia. Di Gramin Bank itu, lembaga menghitung ‘sejahtera’ sebagai manusia yang barangkali punya keluarga. Untuk tingkat manajer Rp12 juta.

Lalu pertanyaan dari mana angka ‘sejahtera’ itu keluar? Kebutuhan-kebutuhan dasar yang membuat manusia yang bekerja di Gramin Bank bisa merasa manusiawi. Dan sebagai manusia, pekerja juga diperbolehkan berkeluarga. Butuh sandang, pangan, dan papan.

Kesemua kebutuhan-kebutuhan dasar pekerja itu perlu dihitung rigit. Sekali lagi, kalau Anda sepakat organisasi hanyalah alat mencapai tujuan, maka organisasi perlu menghitung secara kongkrit kebutuhan-kebutuhan dasar pekerja/orang di dalamnya. Membawanya ke tingkat bisa dibayangkan dan diwujudkan. Bila tidak, untuk apa organisasi kerja bersama dibentuk?

Di sini, yang saya sadari masih lemah di komunitas kita dan orang-orang di dalamnya. Acapkali menggapai sesuatu yang muluk-muluk.

Saya misalkan sering apa alasan melakukan sesuatu atau nambah pekerja atau menentukan target paket atau menentukan target bulanan, saya bilang insting. Tapi ‘insting’ bukan tanpa dasar. Itu karena ada perhitungan yang rumit sehingga saya kesulitan memberikan penjelasan. Dan saya sudah terbiasa dan hapal di luar kepala dengan data serta perhitungan.

Di Buku Mojok misalkan, aku, Sadam, dan Mas Puthut sering berdebat soal target. Di paket Ngabuburead bulan lalu. Saya tetapkan 1.000 paket terjual. Mas Puthut 600 saja udah bagus. Sadam punya perhitungan yang beda.

Ditentukanlah komposisi buku, harga jual, dan waktu 5 hari buat keluarkan paket.

Di sini saya kemudian berhitung komposisi buku yang menjadi paket, dijual di harga berapa, bikin perkiraan juga siapa yang bakal beli. Akun media sosial buku mojok kubagi facebook bisa nyerap berapa, lalu ig dan twitter. Konten seperti apa yang perlu dihadirkan. Reseller siapa saja yang ikut, kekuatan akun dan daya serapnya berapa.

Tepat di hari 3, angka menunjukkan 400-an yang sudah terjual. Saya bisa bilang 600 paket terjual di hari 6. Lalu saya minta Devi uang Rp 2 juta buat modal untuk capai target 1.000. Serta 6 paket buat give away. Minta tambahan waktu 2 hari.

Saya membagi uang itu ke Akalbuku, Mojok Store, Warung Sastra, Buah Buku, dan kuminta mereka jalankan skema yang kubuat. Akalbuku iklan dan give away di Twitter dengan konten langsung mengarahkan orang pilihan: beli atau ikut give away aja. Masak akun Agus dan Kalis gak retweet, kemungkinan kecil karena buku Kalis yang dipaketin. Di sana sesuai perhitunganku, penjualan di Akalbuku nambah drastis di angka yang terukur di atas 50 paket hanya modal 2 paket.

Bukan hanya itu, efektifitas iklan dipantau. Warung Sastra buruk. Buahbuku gagal. Sabdaperubahan perlu dimintai bantuan untuk promosi. Satu paket diberi keterangan habis dan tetap diposting. Di poster kuberi angka yang menunjukkan paket tinggal dikit. Tujuannya supaya cepat ambil keputusan dan transaksi. Waktuku tinggal 2 hari saja nih.

Dari segala komponen yang dilakukan. Berhasil tepat hari 7. Penjualan 1050 paket terjual. Tapi, karena kadung rame. Banyak orang yang kemudian telat mengetahui konten baru mencari paket itu.

Karena insting, perhitunganku rumit supaya saya nggak terlalu lama menjelaskan.

Demikian dengan target bulanan. Aku bertaruh sama Devi, 7.000 eksemplar ya, Dev. Di sini variabel beda lagi. Saya perlu berhitung penjualan di mojokstore, akubaca, reseller lain dan daya serapnya. Saya mengikuti mereka bikin promo setiap reseller, penjualan tertinggi di mana. Bila kurang saya akan nambal dengan paket.

Semua kulakukan dengan dasar perhitungan yang jelas. Sampai-sampai di hari ini saya bisa menyebutkan penjualan di reseller ini sudah berapa, reseller itu berapa. Semua didapat dari kebiasaan pendekatan data dan perhitungan.

Itu baru hal sederhana dari perhitungan yang tampak. Tak banyak yang melakukan dan bisa bikin ukuran demikian.

Ini gak ada yang mau kirim bir buatku?

Baiklah, mari kita lanjut ke persoalan yang lebih besar. Bagaimana cara organisasi kerja membuat perhitungan kesejahteraan menjadi sesuatu yang bisa dibayangkan, dekat, dan tahu jalan untuk menuju ke sana.

Pak Mochtar dan Pak Roem memberi petunjuk, ilmu berhitung, perhitungan. Di sini organisasi kerja akhirnya perlu berusaha dan memfasilitasi mimpi-mimpi bersama orang yang bekerja di dalamnya bisa terbayang, menjadi lebih objektif, dan bisa diukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.