Ilmu Perhitungan, Insting, & Kesejahteraan II

Baiklah, saya perlu bergegas dan malanjutkan bagian ini buat pengantar ceramah Hasby tentang ‘mengatasi bisnis di era pandemi’. Teman-teman sebaiknya menyempatkan menyimak.

Yang perlu saya bilang secara jujur adalah Buku Mojok, Akubaca, dan Mojok Store punya peluang besar maju pesat sekarang. Buku mojok misalkan punya peluang sejajar atau menyalip 3 group besar penerbit besar di Indonesia. Infrastuktur dan sdm yang dimiliki semua. Ada jong, mas fikri dan rifki, alfa yang punya pengalaman di sektor perburuhan dan pembagian kerja bisa diperbantukan, dan di belakang zaki udah membangun sesuatu yang dibutuhkan 2 atau 3 tahun lagi.

Saya juga mengukur sdm dan infrastuktur dari 3 group besar yang dimaksud. Kekurangan kita hanya tak punya modal. Tapi daya imajinasi, strategi, padu padan sdm untuk mendukung tindakan taktis? Hmmm. Romlah 3 atau 4 langkah di depan. Suatu hari Romlah memanggil Akbar, sekarang dia di Akubaca, cuma untuk jalankan kerjaan nggak masuk akal; telepon atau dm akun2 toko Gramedia dan bertanya ada bisa pesan Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini? Saya mau beli. Padahal buku itu tidak diperbolehkan masuk Gramedia sebelumnya.

Makroekonomi masih kinerja positif saat ini. Masih bagus. Tumbuh. Tinggal mau manfaatkan momentum dan ambil peluang atau tidak.

Tapi peluang seperti apa yang hendak diambil oleh Romlah Buku Mojok dll, bukan ke arah sana. Nggak teramat penting buat kita bersaing dengan cara ekspansif. Ada sesuatu yang lebih penting dan menjadi prioritas.

Saya coba urai cara menghitung ‘kesejahteraan’ karena ini menjadi titik tolak berangkat dan menjadi bahan pertimbangan untuk masing-masing organisasi di KBEA bilang; ok, cukup sampai sini.

Memulainya bukan dari sesuatu yang di luar kita, tapi dari dalam yakni anggota di masing-masing organisasi kerja. Apa saja kebutuhan yang perlu diwujudkan dihitung secara rigid.

Saya beri ilustrasi di Matawarna. Perlu dihitung kebutuhan hidup dari pekerja di dalamnya. Kebutuhan pokok, sandang, papan. Tabungan hari tua. Biaya kesehatan. Pekerja juga punya keluarga. Itu semua menjadi faktor kunci untuk menghitung tingkat kesejahteraan menjadi bentuk yang bisa dilihat dan diukur. Kemudian jadi pedoman melangkah ke depan.

Oiya, ini jangan sampai lupa. Ada pemegang saham yang juga perlu diberi kue sesuai dengan porsinya. Mereka bagaimanpun juga sudah bertaruh uang dan pikiran yang besar buat matawarna.

Dari sana akan terlihat skala minimal pendapatan yang perlu didapat oleh matawarna. Target pendapatan bulanan yang ditetapkan perlu mempertimbangkan ‘angka kesejahteraan’. Dari sana baru diperjelas lagi ke perhitungan berapa eksemplar buku yang harus dicetak.

Ilustrasi tersebut bisa juga oleh Rifqi, filsuf pertanian kita, memulainya dari dalam. Sesuatu yang nyata dan dekat. Kebutuhannya ‘angka kesejahteraan’ berapa. Lalu masuk lagi ke perhitungan lahan yang dibutuhkan. Kalau sudah ada lahannya bisa melihat lagi luasan dan apa yang bisa digarap serta menghasilkan nilai maksimal dengan cara apa. Kalau luasan lahan kurang, maka apakah perlu menambah lahan atau cukup dengan menghadirkan sesuatu yang lebih memberi nilai produktifitas lain di lahan yang ada.

Di Buku Mojok juga begitu. Kebutuhannya dari dalam. Kalau masih kurang di porsi untuk pemilik saham atau kebutuhan pekerja dan komunitas, buku mojok boleh menambah pekerja.

Ikuti saja perkembangan waktu demi waktu. Daya cipta, kreasi, dan kebahagiaan tidak boleh lepas dari orang-orang yang menjalankan ketika mencapai tiap goals dan kemenangan-kemenangan kecil di depan. Boleh bikin pesta kecil dengan makan2 bersama dan sesekali minum-minum tapi tidak berlebih. “Segala yang berlebih itu tidak baik,” demikian kata Bilven Sandalista.

Sampai titik ini, Romlah memutuskan tidak ingin lagi mobil mini cooper. Sebab, itu di luar kebutuhan dan justru berpeluang membuat Romlah menjadi congkak. Boleh punya mobil kantor, tapi sesuai kebutuhan pilihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.