Gaya Hidup Bahagia

Saya sering membaca artikel tentang bagaimana gaya hidup sehat di berbagai media massa. Semua mirip. Intinya ya kira-kira menyarankan agar rutin berolahraga, menjaga pola makan, menghindari stres, dll.

Kami di KBEA memiliki konsep sendiri, dan tentu konsep itu belum final. Kami sedang mengusahakan sebuah komunitas dengan ‘gaya hidup bahagia’. Apa itu? Bagaimana kira-kira praktiknya?

Kami percaya bahwa setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi kadang kala pencarian itu tertutupi pencarian lain: mencari uang, mencari ketenaran, mencari pangkat dan jabatan, dll. Sekali lagi mencari itu semua bukannya tidak boleh. Tapi kerap kita mengorbankan pencarian akan kebahagiaan. Kemudian yang terjadi kebahagiaan berusaha ‘ditemukan’ dengan cara yang berbeda: belanja, pesta, wisata. Lagi-lagi bukan berarti itu tidak baik. Ini bukan soal baik atau tidak.

Beginilah kira-kira kami mencoba menyusun konsep hidup bahagia:

Bekerja dengan gembira. Kami kemudian mulai memikirkan hal yang paling prinsip: menyikapi kerja. Tidak usah pakai teori keterasingan kerja, terlalu berat. Kami sederhanakan saja. Intinya bagaimana menyikapi pekerjaan sebagai sebuah kegembiraan. Sekaligus kami berusaha membuktikan jika kita makin gembira melakukan pekerjaan tersebut maka hasilnya makin bagus, makin tepat waktu, makin efektif dan makin banyak tertawa.

Menikmati hobi. Semua orang yang tergabung di KBEA pasti punya hobi. Ada yang suka membaca, menonton film, memyanyi, dll. Kadang kesukaan itu harus dikorbankan karena kesibukan. Kami menciptakan kondisi agar hobi lama itu tetap berjalan wajar tanpa terganggu kesibukan.

Berbagi. Kami menyadari bahwa membagikan apa yang kami miliki, terutama ketrampilan yang kami miliki kepada orang lain, akan membuat hidup kami berkualitas. Dengan landasan sederhana itulah kami membuat kelas-kelas reguler seperti kelas digital dan kelas menulis. Akan ada cara lain lagi yang kami lakukan untuk berbagi.

Nongkrong. Berkomunikasi dengan rileks, kami percaya sebagai salah satu sumber kebahagiaan. Maka dulu di komunitas-komunitas lama, ada tempat-tempat publik untuk orang bertemu dan bercengkerama. Bahkan ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa masyarakat yang gemar nongkrong di warung kopi lebih bahagia dibanding yang tidak. Padahal dulu aktivitas itu dianggap sebagai buang-buang waktu. Sebab waktu hanya dihitung dari nilai ekonomis belaka. Hanya saja di KBEA, nongkrongnya dibuat variatif. Kadang di kantor, kadang di warung kopi, termasuk sebetulnya kalau kami futsal atau nanti namplek alias badminton, sebetulnya sikap mental kami adalah nongkrong.

Berkarya. Terakhir, kami selalu saling menyemangati agar setiap orang di dalam komunitas KBEA bisa berkarya di bidang masing-masing. Ekspresi personal sangat kami hargai dan kalau bisa difasilitasi.

Begitulah kira-kira yang kami jalani sehari-hari. Dan kami sangat terbuka, ini bukan sekte tertutup. Teman-teman yang datang untuk bersilaturahmi atau gabung di kegiatan kami, pasti diterima dengan tangan terbuka dan dianggap sama. Tidak ada istilah ‘orang lama’ atau ‘orang baru’. Semua berjalan dengan santai dan menggelinding begitu saja…

Selamat menikmati soto…

— ditulis oleh Puthut EA

Leave a Reply

Your email address will not be published.