Kelas

Kelas . Sebaik-baiknya kantor, adalah kantor yang mengajakmu belajar lagi, untuk berkembang. . KBEA punya agenda belajar secara berkala. Nantinya, akan ada kelas setiap 2 minggu sekali, selama 2 malam dengan pembicara-pembicara yang unik. . Malam ini, Kelas Pencarian Pemikiran berusaha mencuri proses kreasi Mahfud Ikhwan, penulis pemenang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 lewat novel “Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu” (penerbit @marjinkiri). . Tema malam ini adalah “Saya, Kampung Halaman, dan Sastra Indonesia” . Sebuah tema yang dekat dengan kita semua. Tentang kampung halaman, tentang kisah-kisah yang menyertai kita masing-masing ketika tumbuh dan berkembang. . Simak terus lini masa dari @fawazisme untuk informasi kelas-kelas selanjutnya. . #kelas #belajar #sastraindonesia #kampung #mahfudikhwan #dawuk #ulid #kambingdanhujan

A post shared by Yamadipati Seno (@yamadipatiseno) on

Kelas Dua Malam KBEA

Selama ini, disadari atau tidak, kita mencoba melepaskan sebuah tema dengan persona. Padahal apa yang dinyatakan dan dipikir oleh seseorang tentang suatu hal, bisa jadi merupakan pergulatan panjang, pendalaman yang tidak mudah, pencarian yang penuh liku. Pendek kata, dari pemikiran seseorang tentang satu hal, ada pencarian yang tidak mungkin dilepaskan dari dirinya. Sehingga subjektivisme, personalitas, emosi, greget, tidak mungkin kita pisahkan dari sebuah tema.

Hanya saja selama ini kita selalu ingin fokus pada tema, pada pengetahuan dan informasi tertentu, dengan menyingkirkan ‘subjek’ dari tema. Subjek di sebuah forum hanya dianggap sebagai ‘si pemberi informasi’. Tidak lebih dari itu. Bukan ‘dia yang bergulat’. Kita sering menampik ‘objektivisme’ tapi pada kenyataannya, dalam proses transformasi pengetahuan, kita pereteli pengetahuan dari subjek penyampainya. Continue reading Kelas Dua Malam KBEA

Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Kelas membincangkan sejumlah tugas menulis reportase; ditutup evaluasi.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

HUSNA FARAH, peserta kelas menulis KBEA, membacakan narasi yang dia tulis tentang salah satu masalah sosial di tempat kelahirannya di Depok, Jawa Barat. Dia menulis dari sudut dunia kecil subyek, kisah keluarga miskin tapi memiliki 9 anak, sehingga pasangan itu kerepotan membesarkan salah satu anaknya. Kemudian si anak diserahkan kepada keluarga yang bersedia mengadopsinya yang merawatnya dengan baik—tiada membedakan antara anak kandung sendiri. Pasangan itu—dekat dengan kehidupan Farah–berjanji takkan memisahkan si anak dengan ibu kandungnya sendiri.

Konflik emosional muncul setelah si anak makin tahu latarbelakang keluarganya. Dalam jalinan pelik dunia orang dewasa, si anak mulai tidur di rumah orangtuanya, “sebuah wilayah perkumpulan pemulung di daerah Depok.” Dia akan bangun subuh hari, lalu pergi ke rumah orangtua angkat, pergi ke sebuah sekolah dasar, bermain hingga petang, dan malamnya kembali ke rumah ibunya. Continue reading Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan