Buku untuk Kemanusiaan

“Hidup tanpa pernah berbagi adalah hidup yang kosong dan sepi (Yogyakarta, 21 Oktober 2018).”

Digagas dalam satu malam pada tanggal 11 Oktober 2018, Lapak Buku Donasi untuk Palu-Donggala merupakan wujud kecil dari tanggung jawab sosial Komunitas Bahagia EA atau yang lebih familiar disebut KBEA bagi korban gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah. Berbeda dengan bentuk penggalangan donasi—bagi korban bencana—yang pernah kami lakukan sebelumnya, solidaritas kemanusiaan ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut (13-20 Oktober 2018) dengan total waktu pelaksanaan 21 jam.

Bertempat di Warung Mojok, gerakan yang berhasil mengumpulkan dana tunai Rp28.398.000 ini mempertemukan para donator dari dua arah. Pertama adalah para penyumbang buku (baik personal maupun penerbit) dan yang kedua adalah penyumbang dana tunai (baik melalui pembelian buku ataupun tanpa pembelian buku). Keduanya bertemu untuk membantu para korban gempa berkekuatan 7,4 SR dengan ketinggian tsunami mencapai 5 meter pada 28 Oktober 2018 ini. Bencana alam yang telah memakan lebih dari 2000 korban jiwa dan mengakibatkan lebih dari 50.000 jiwa harus mengungsi.

Diselenggarakan dari ide spontan dan perencanaan yang cepat, tanpa diduga penggalangan donasi ini mendapatkan sambutan yang baik dari para donator. Terhitung hanya 24 jam waktu untuk melakukan publikasi dan mengatur teknis pelaksanaannya. Beberapa penerbit seperti Ultimus, BukuBaik, Basa Basi, Insist Press, Indie Book Corner, EA Books, Buku Mojok, Solusi, dan Diva Press serta orang perseorangan ikut ambil bagian dengan mengirimkan buku-bukunya. Memanfaatkan hubungan kekerabatan sebagai sesama penerbit buku di Yogyakarta, hanya dalam satu hari para penerbit di atas tanpa ragu mengirimkan berkardus-kardus buku kepada kami. Sebuah spontanitas dan kerelaan yang menumbuhkan optimisme baru bahwa masih banyak pebisnis-pebisnis dan orang-orang baik di dunia ini.

Di sisi yang lain, para pecinta buku pun berdatangan dan rela berdesakan untuk mengadopsi buku yang ada dan menukarnya dengan donasi uang tunai. Tidak sedikit yang datang berulang pada hari berikutnya, hari ini datang besok pun kembali hadir. Bersetia menunggu dari pukul 17.00 hingga 20.00 WIB. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa nilai donasi minimal 10.000 per buku—donasi wajib yang harus dikeluarkan oleh para pengadopsi—merupakan alasan utama kehadiran mereka, namun antusiasme ini tetap patut disyukuri. Antusiasme yang berpadu dengan niat bahwa uang yang mereka keluarkan akan didonasikan sepenuhnya untuk gerakan kemanusiaan.

Walaupun mengusung lapak buku sebagai konsep besarnya, KBEA sama sekali tidak mengirimkan sumbangan berupa buku ke lokasi bencana. Alasannya sederhana saja, buku belum menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat di Palu-Donggala saat ini. Selain itu, letak yang jauh dari lokasi bencana dan mulai dipulihkannya kembali jalur transportasi di lokasi, membuat dana tunai menjadi pilihan yang dirasa paling tepat untuk didonasikan. Dana tunai inilah yang kami salurkan ke Tim Relawan Kemanusiaan Jaringan INSIST untuk dikelola sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

KBEA bukanlah satu-satunya komunitas yang menggunakan buku sebagai sarana perantara penggalangan dana. Sebut saja Komunitas Akarkata di Makassar yang juga melakukan hal sama untuk para korban gempa Lombok melalui penjualan buku di depan Kampus Unismuh Makassar. Konsepnya pun nyaris sama, mereka menerima sumbangan buku dari beberapa penulis, pegiat literasi, orang perorangan, maupun komunitas, untuk dijual dan hasilnya didonasikan ke Lombok. Buku telah menjadi sarana yang baik, tidak hanya membangun manusia dari sisi pemikirannya, tetapi juga mampu menjadi penggerak bagi hati manusia untuk bertindak atas dasar kemanusiaan.

– ditulis oleh Dyah Permatasari

Leave a Reply

Your email address will not be published.