Bisnis

Saya sering bertemu dengan banyak teman yang ingin punya usaha. Berbisnis, begitu bahasa mudahnya. Tapi hampir semua yang saya temui belum punya sikap mental dalam berbisnis.

Pertama, kebanyakan dari mereka terlalu lama berpikir. Mau bikin warung kopi saja, ada teman saya yang mikirnya sampai 8 tahun. Sudah bertemu saya belasan kali, setiap ketemu obrolannya masih sama: konsep warung kopi. Dan banyak yang seperti itu, ada yang sudah 2 tahun mikir bisnis, ada yang 4 tahun, dsb. Itu mau bikin teori baru atau mau bisnis… Saya terus terang bingung.

Kedua, tidak mau rugi. Bisnis itu ya seperti usaha yang lain, punya kemungkinan berhasil tapi juga punya risiko rugi. Tapi banyak teman saya yang mikir bisnis kemudian tidak segera dieksekusi karena menghitung ada kemungkinan rugi. Sampai jebol pikiran mereka ya pasti tidak akan menutup peluang terjadinya kerugian. Hukum alamnya demikian.

Biasanya mental yang tidak siap berbisnis, melihat bisnis itu sendiri sebagai sesuatu yang molek. Enak. Indah. Saya juga sering mendengar teman-teman saya berkomentar, enak ya saya punya bisnis KBEA dan Warung Mas Kali.

Biasanya kalau saya tidak sedang malas, dalam rangka membantu membangun pengertian yang lebih maju dan adil untuk melihat bisnis, saya paparkan sedikit hal. Tidak banyak. Kalau banyak bisa takut. Misalnya soal KBEA. Sebagai entitas bisnis, KBEA ini salah hitung saja sering. Itu masih belum apa-apa, KBEA juga sering ditipu oleh rekan kerjanya. Kami pernah ditipu mulai dari puluhan juta sampai ratusan juta. Sampai sekarang, kalau salah hitung sudah jarang terjadi, tapi kalau ditipu orang, kadang-kadang masih terjadi. Ya itu risiko bisnis. Tugas kita meminimalisir risiko tersebut tapi tidak akan pernah bisa menghindari sepenuhnya. Risiko itu melekat.

Maka jika ada orang yang suka bilang: enak ya punya KBEA, kalau kemudian saya ceritakan sedikit saja soal perjalanannya, mereka bisa pucat. Karena jika mereka mengalami itu, belum tentu sanggup. Lha kami tidak salah apa-apa tiba-tiba semua pekerjaan tidak dibayar, dan kerugian kami dobel. Kenapa bisa begitu? Saya ambil contoh.

Katakanlah kami mendapatkan proyek pengerjaan buku dengan total proyek 250 juta rupiah. Anggaran untuk menjalankan seluruh proyek itu: 200 juta. Keuntungan kami: 50 juta. Porsekot diberikan: 100 juta rupiah. Ternyata sampai proyek jadi, pelunasan tidak diberikan. Kerugian kami bukan hanya 100 juta, tapi 200 juta penuh. Karena kami tidak mau ada orang yang menipu kami, lalu kami juga tidak mau menipu pekerja yang bekerja untuk kami di proyek tersebut. Ini sikap bisnis saya. Saya boleh ditipu dan dirugikan orang, tapi saya tidak mau membebankan itu ke semua orang yang terlibat. Saya berbisnis bukan untuk menjadi orang jahat. Sehingga kalau mau dihitung secara benar, bukan hanya kerugian materi, tapi juga kerugian waktu dan tenaga. Kalau proyek itu dikerjakan selama 4 bulan, maka berapa kerugian kami?

Setelah cerita begitu, biasanya saya tanya: mau kamu menjalankan bisnis seperti KBEA? Kalau tidak, jangan bilang bisnis KBEA itu enak. Bisnis jasa itu potensi ditipunya besar sekali.

Maka tidak heran jika Anda pernah ikut seminar bisnis dan mendatangkan para pebisnis sohor, biasanya akan ditanya: “Apakah Anda pernah rugi dalam bisnis? Apakah Anda pernah ditipu dalam bisnis?”

“Kalau ada yang bilang belum pernah rugi dalam berbisnis berarti belum pernah berbisnis. Kalau belum pernah ditipu dalam berbisnis, berarti belum pernah berbisnis.”

Dua risiko itu melekat di dalam bisnis. Kalau tidak siap, sebaiknya jangan berbisnis.

Jadi, masih mau berbisnis? Atau masih mau mikir bertahun-tahun hanya untuk bikin sebuah warung kopi?

— ditulis oleh Puthut EA

Leave a Reply

Your email address will not be published.