Bintang-Bintang di Lapangan Sale

Nody masih tidur nyenyak ketika Kang Eko datang dan Rifqi membawa bungkusan soto ayam. Mendengar orang membuka pintu, Nody terbangun kaget dan langsung misuh: “Cuk, aku lagi ngimpi bareng cewek durung tuntas kok wes do teko.” Masih sambil misuh Nody ingin melanjutkan mimpinya di kamar mandi. Saya meh ngguyu tapi karena tahu rasanya mimpi yang belum tuntas karena dibangunkan paksa, terus gak jadi. Cukup mesem saja. Setelah itu Fahri dan Aditya datang.

Jam 08.00, kami berangkat menuju Rembang, tepatnya di kecamatan Sale. Selama seminggu, KBEA akan mengisi pelatihan menulis dan membuat web di sana. Rifqi sebagai kapten rombongan sudah memberi aba-aba, perjalanan dengan mobil L300 ini akan ditempuh dalam waktu 6 jam melalui Ngawi. Mendengar arahan simbah badan ini rasanya sudah kemretek, membayangkan kondisi jalan yang gronjal-gronjal. Huh. Semua tertidur pulas, kecuali Nody yang sibuk main wassap dengan beberapa, ah sudahlah.

Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.
Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.

Sekitar pukul 12.30 kami sampai di rumah makan di Sragen. Menunya banyak dan enak. Saya mengambil ayam goreng, kentang, sayur trancam, dan minum es degan. Tentu selepas kenyang, perjalanan dilanjutkan. Tak ada firasat atau pertanda apapun sampai sekitar beberapa kilometer dari rumah makan, seorang pengendara motor memakai rompi hijau mengejar dan menghentikan laju mobil kami. Saya deg-deg ser. Bukan polisi kok berani-beraninya nyegat kami. Atau ini polisi yang menyamar?

Setelah mobil menepi, pengendara tersebut mengetuk jendela sopir dan bilang, “mas, tadi makannya belum dibayar semua ya.” Waduh! Kami semua terdiam dan kebingungan. Kok bisa 7 orang makan dan belum bayar malah langsung melenggang dengan santainya? Tapi namanya manusia, tempatnya salah dan lupa. Lupa berjamaah juga sah-sah saja. Kami akhirnya meminta maaf dan membayar ke pengendara utusan rumah makan tersebut.

Perjalanan dilanjutkan dan sekitar pukul 15.00 kami berhenti di pertigaan Jepon, Blora. Mobil travel yang kami tumpangi cuma sampai di sana, setelah itu kami menunggu supir yang akan mengantar kami ke Sale. Di pertigaan dekat Polsek itu ada warung kopi, eh, lebih tepatnya warung nasi pecel. Jadi sambil menunggu sopir, kami sempatkan ngopi di warung pecel tersebut. Nody saya kira diberkahi mata batin yang bukan main tajamnnya. Sementara yang lain langsung duduk manis memesan kopi, sang predator (istilah dari Fahri) berjalan sejenak ke toko kelontong di samping warung pecel dan menyapa perempuan berjilbab biru. Melihat momen mengharukan tersebut Rifqi mesam-mesem. Kang Eko cuma bilang “memang Nody luar biasa.”

Mampir di warung kopi sebelum melanjutkan perjalanan.
Mampir di warung kopi sebelum melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita, sopir yang menjemput datang dan kami melanjutkan perjalanan menembus hutan dan sawah sepanjang jalan Blora-Rembang. Ada momen di mana beberapa anak muda mengacungkan topi meminta uang kepada setiap kendaraan yang lewat. Ada gundukan tanah di depan jalan tersebut. Saya kira itu jalanan yang rusak, tapi pak sopir tidak melambatkan laju mobil. Dan ketika menginjak gundukan tanah tersebut ternyata biasa saja, tidak njeglong. Di samping jalan saya melihat beberapa orang yang memegang cangkul untuk memindahkan tanah ke tengah jalan. Kreatifitas mencari uang memang sepertinya tanpa batas. Kami sampai di Sale sekitar pukul 16.00.

Setelah puas istirahat dan bersih-bersih, selepas isya kami ngopi di warung mas Nuri, seorang kawan yang beberapa kali sempat ke Jogja. Entah kenapa hari ini saya bisa ngopi sampai dua kali, pertama kali setelah sekian tahun lalu. Oh iya, sebelum menuju warung kopi, kami melintasi markas Koramil. Adit refleks bilang ke Fahri, “Kuwi mas markas militer, mbok kono ditulis. Kan militer nduwe akeh kasus.” Di warung kopi mas Nuri, beberapa orang masih tidak terima Indonesia dibantai 0-5 secara berurutan, oleh Thailand, lantas Vietnam.

Warung kopi mas Nuri ini menarik perhatian saya, tentu bukan karena kopinya. Saya sungguh tidak bisa menikmati kopi. Warung kopi ini kerap jadi ajang nonton bareng siaran langsung sepakbola. Dengan TV yang menggunakan parabola, hampir semua siaran langsung sepakbola bisa dinikmati. Jangankan kompetisi besar macam Piala Dunia atau Copa America, Piala Eropa U-21 saja juga ditonton. Dan hampir semua turnamen itu dijadikan ajang “arisan”.

Jam 22.00 kami pulang ke rumah. Di gang dekat rumah yang kami tinggali, ada lapangan bola yang cukup luas. Lapangan Sale. Entah kenapa tiba-tiba Adit bilang, “Wah ini cocok bikin tulisan judulnya “Senja di Lapangan Sale”. Nody menyela karena merasa belum menikmati senja di sini, dan ia melihat ke langit. Banyak bintang, bertaburan. Nody teringat beberapa orang dan ia ingin membuat tulisan dengan judul “Bintang-Bintang di Lapangan Sale”. Besok di akhir pelatihan ini Nody akan menuliskannya.

* Catatan Hari Pertama Workshop Menulis di Desa Sale, Rembang

One thought on “Bintang-Bintang di Lapangan Sale”

Leave a Reply to sutrisna Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *