‘Apa yang saya bicarakan di kelas digital yang tidak saya dapatkan ketika kuliah filsafat’ 

IMG_3493
KBEA/ Eko Susanto

SEORANG karibnya sesama studi filsafat di Universitas Gadjah Mada menyebutnya “taipan media.” Itu adalah sanjungan, sebaliknya adalah lelucon gelap bagi si karib. Mereka pernah bertemu di Jakarta sesudah yang satu berhasil selamat dari ‘dancing out,’ bekerja sebagai wartawan dengan membawa kisah asmara yang pahit, untuk mendapati kenyataan bahwa kemudian media tempatnya bekerja hanya berumur sekedipan mata.

Rifqi Muhammad, seperti biasa, selalu menanggapi sanjungan macam itu dengan senyuman; satu jenis senyum yang telah melelehkan lusinan perempuan, terutama dari kalangan hijaber,  seakan-akan jenis senyum itu datang dari rahasia Tuhan yang membuat seekor harimau Jawa mencair menjadi mentega. Si karib, Beni Satryo, seperti biasa pula dengan gaya yang landai—frase yang selalu dia gemari diproklamirkan—sumringah betul seakan telah menemukan keajaiban Tuhan. Mereka, dari saksimata yang berhari-hari kemudian menceritakan pertemuan karib lama itu kepada saya, segera berpelukan. Mereka bertemu di salah satu kantong seni di jantung kota Jakarta.

Pelukan itu selalu menjadi tekanan utama dari kisah keduanya. Mundur bertahun-tahun ke belakang, Beni adalah sosok yang bila diringkas adalah seorang legenda di kampusnya. Di kantor—yang lebih menyerupai gudang—pers kampus Pijar di fakultas filsafat, Beni adalah tetua, tokoh utama, sumber humor, kawan cerita yang menyenangkan, kegembiraan yang datang dari masa depan anak-anak muda yang sulit tertebak di negeri ini. Itu lantas diproduksinya lagi lewat kicauan-kicauannya yang memikat para pengikut loyal. Dia yang mempopulerkan segala sesuatu yang tidak jelas, perasaan berkabut, nestapa, atau kegembiraan kelas menengah memiliki gajet paling mutakhir, dengan istilah “hemhemhem”. Dia pula yang menjadi konduktor mbeler massal mengganti frase “luarbiasa” menjadi “waarbyasa~”, bukti terbaru segala yang woles di dunia ini adalah milik Beni semata.

Sementara Rifqi, berkebalikan dengan Beni, bergiat di pers kampus Balairung, dan menyelesaikan tugasnya yang purna di sana sebagai redaktur. Dia adalah pribadi yang punya pemikiran serius—satu fakta historis yang jarang dikenali sebelum kita mengenalnya belakangan ini, seperti dijuluki Beni, sebagai taipan media. Sebagai bukti, suri pemikiran Rifqi muncul di halaman gagasan Koran Tempo dan rubrik resensi buku. Jalan hidup anak muda selalu berubah. Dia lantas menekuni bisnis di dunia online, mengalami peristiwa pahit, namun sebagaimana succes story seorang tokoh utama di negeri anak singkong, dia tak menyerah begitu saja. Sampai akhirnya, dia menikmati benar petualangannya di bisnis digital. Dia belajar otodidak seperti kisah para pesohor lainnya.

Pada masa ketika saya memutuskan pindah ke Jogja, saya berkenalan dengan Beni dan Rifqi dari Alfian Syafril, teman mereka yang menjadi teman satu rumah saya. Saat itu musim kebersamaan mereka yang seru. Tambahan pemeran utama lagi di sini: seorang anak muda dengan rambut gondrong dari Semarang bernama Suluh Pamuji. Mereka semua dari filsafat dan mereka yakin benar dengan sebuah gagasan bahwa kenangan harus dikekalkan, mantan harus diabadikan, dan segala barang-barang yang menyimpan melankoli mesti dipamerkan. Itulah kemunculan perdana apa yang kelak dikenang oleh orang-orang di Jogja bagian utara, yang berbeda secara kebudayaan dengan Jogja selatan, sebagai pameran barang-barang mantan. Kuratornya, siapa lagi, kalau bukan Beni. Dan mereka mendeklamasikan kebebasan kreatif itu sebagai Pameran Patahati.

Maka setiap orang dibagi menunaikan tugasnya. Beni, seorang pemikir, pelamun, pemecah kebekuan, gabungan kontradiksi di dunia ini, membuat konsep pameran tersebut agar dibicarakan oleh kelas menengah Yogyakarta. Rifqi, yang telah merintis dunia kreatif di balik lanskap digital, menjadikan pameran itu sebagai batu ujian dalam bisnisnya yang kelak dia kembangkan sebagai apa yang kita kenal kampanye di media sosial. Alfian, atau akrab disapa Aan, yang memiliki pengalaman sebagia kontributor media beneran di Jakarta, mengedarkan pameran itu ke para pengiklan. Adapun Suluh mengemas pameran itu ke dalam pemikiran yang filosofis, sebentuk “hemhemhem” dan sesuatu yang waarbyasa~.

KBEA/ Eko Susanto
KBEA/ Eko Susanto

Saat hari pembukaan di Kedai Kopi, meledaklah ruangan lantai dua dengan anak-anak muda yang memadati pameran mereka, para pengkaji kebudayaan menyebutnya kalangan hipster, diiring nyanyian, deklamasi puisi, dan dikelilingi barang-barang mantan, suatu kegembiraan dari sumber tangisan. Ada banyak peminat pameran yang memajang barang-barangnya, dan datang dari sejumlah kota termasuk dari Bandung. Ada yang memajang kartupos, biskuit (yang kata Beni kalau kita makan bisa keracunan saking lamanya disimpan dan sudah melewati tenggat kadaluarsa), rekal al-Quran, buku, jurnal pribadi, dan segala barang lain termasuk gelas dan sebagainya. Para pelaku pameran dari luar kota mengirimkan barangnya lewat jasa ekspedisi, sebagian besar lagi adalah teman-teman keempat anak muda itu, yang langsung menyerahkan barang peninggalan mantan kepada mereka. Ada pula yang sukarela memajang sendiri, tipe orang seperti Windu Jusuf, yang dibilang Beni sebagai marxis yang malas jalan kaki. Sebagian besar barang itu, sesudah pameran, dikembalikan ke pemiliknya. Tempat pameran, selain di Kedai Kopi, digelar di Philokopie—kini sudah berganti nama menjadi Hestek Kopi.

Dari keempat kawan itu, Aan yang lulus lebih dulu dan segera mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Beni, Rifqi, Suluh saling melongok lewat punggung bila membicarakan skripsi. Semuanya saling mengunci dan mencari perkembangan ke lingkaran teman mereka. Masa ini para legenda Pameran Patahati meniti jalan hidupnya sendiri-sendiri, mereka akan ramai bila bertemu di Twitter, dan sesudahnya adalah kesendirian. Itu masa kritis. Beni dan Suluh, rupa-rupanya juga menyusul Aan. Tinggallah Rifqi.

Demikianlah, saat Rifqi bertemu dengan Beni di jantung kota Jakarta, dari kejauhan Beni berteriak kegirangan, memeluknya, dan julukan itu pun meluncur, “Betul-betul, saya bertemu dengan taipan media.”

Namun, segera sesudahnya, Beni menambahkan, “Kamu memang taipan media, Mbah.. Tapi gini-gini—sambil Beni menepuk dadanya dengan cara yang dibikian teatrikal—aku udah Kagama, lho..”

Rifqi, dengan senyum yang sekali lagi telah memikat hati perempuan, hanya tertawa tipis. “Taek,” katanya.

Itulah perjumpaan mereka yang hangat dari perpisahan yang lama.

Bak pelecut, sindiran Beni rupanya dibawa Rifqi saat balik ke Yogya. Dan seperti Malquedes yang mengunci kamar untuk menyingkap rahasia-rahasia Tuhan paling tersembunyi, dia menekuni bentangan khasanah pemikiran filsafat, membawa setumpuk buku dari apa yang dia dapatkan dari ruang kuliah selama ini ke sebuah kamar di KBEA. Sementara para pegiat KBEA lain sibuk menggarap proyek-proyek pekerjaan, dia memilih secara sadar untuk menuntaskan apa yang sudah diselesaikan ketiga karibnya. Dia mengambil langkah impase, membiarkan dunia di sekitarnya berjalan tanpa dia, dan hasilnya adalah kamar yang berantakan seperti baru saja dimasuki oleh seekor gajah.

Tema untuk studi akhirnya dia pilih yang dekat dengan keseharian bisnis yang dia geluti, yakni tentang kelas menengah. Dan karena ini dia berurusan dengan sebuah studi filsafat, maka, sungguh suatu pencapaian yang tiada banding, dia menutup kelulusannya dengan skripsi berjudul “Kelas Menengah menurut Pemikiran Marxisme.”

Beni, sekali lagi, dilewatinya. Rifqi, selain menyandang “taipan media”, juga bisa mematut diri sebagai Kagama—hanya tunggu hitungan hari saat diwisuda pada 17 Februari nanti.

IMG_3476
KBEA/ Eko Susanto

Ketika Beni yang kicauan terakhirnya bertanggal 19 Desember tahun lalu (“Asik sekali bangun pagi. Apalagi langsung pidato ~”), saat Aan mungkin sedang luntang-pukang mewartawakan kompleksitas persoalan negara Indonesia, sewaktu Suluh yang belakangan serius mendalami keahlian videomaker di bilangan kota Yogya, Rifqi—di sebuah ruangan tengah di Komunitas Bahagia—mengenakan kaos bergambar Gus Dur, dengan cambang tipis di dagunya, dengan intonasi suara yang pelan tapi terukur—memasang gaya yang sesantai mungkin, duduk di atas kursi plastik merah sembari merokok secara rutin—tepat setelah listrik kembali menyala, membuka kelas digital tentang apa yang dia bicarakan yang tidak dia dapatkan di bangku kuliah filsafat.

Saat itulah layar proyektor memancarkan penjelasan yang menggambarkan lanskap demografi digital Indonesia. Kata kuncinya: target market, tren user, pola yang selalu dinamis di dunia internet, pola membangun brand, pola mengaktivasi saluran-saluran media sosial.

Rifqi mula-mula menjelaskan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI). Dalam proyeksi asosiasi itu, pada 2015 ada 139 juta pemakai internet di Indonesia. Data itu lantas diturunkan ke dalam preferensi gender, wilayah, dan usia (apa itu digital native, apa itu digital immigrants). Dia juga menjelaskan data pemakaian internet lewat laptop dan ponsel dan rerata jam yang dihabiskan pemakai dari kedua device itu perhari. Lewat gajet pintar misalnya, dari data AC Nielsen, paling tinggi adalah kanal media sosial yang dibuka dan diakses orang, berikutnya untuk cari hiburan, lantas informasi umum, email, dan seterusnya.

Paling tinggi orang membuka ponsel saat di tempat tidur, kata Rifqi; ada 69%. Berikutnya saat mereka menunggu di suatu tempat; ada 35%.

“Identifikasi pola orang menggunakan ponsel saat menunggu ini, ujar Rifqi, “bisa dibilang ya sedang ishoma.”

Sementara, untuk konteks Indonesia, media sosial yang paling banyak dibuka adalah Facebook. Jadi, ujarnya, kita bisa mendekatkan pola promosi melalui Facebook, di sanalah sumber kerumunan.

Saat menyinggung pemakaian internet berbasis wilayah, perkotaan dan pedesaan, Rifqi menyebutnya preferensi itu juga “sangat signifikan” bila kita bicara organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. “Karena agak sulit mengukur pengguna internet, dari kalangan NU dan Muhammadiyah, untuk mengenalkan website kita dengan parameter kelas menengah.”

“Ini semacam guideline umum kendati kita harus sesuaikan dengan konteks kampanye kita masing-masing,” Rifqi menutup presentasinya.

Dia mulai membuka sesi tanya-jawab.

Hasbi dari Fandom bertanya soal bagaimana kampanye di dunia medsos agar bisa efektif.

Menurut Rifqi, “Prinsip dasarnya, orang nggak tahu website kamu, dan wesbsite kamu nggak dikenal, kita harus membawa website itu ke kerumunan lewat kanal-kanal medsos. Sebagai brand, kita harus mengaktivasi akun.”

Untuk mula-mula, memakai akun personal, bisa dengan membuat akun yang tujuannya untuk promosi. Lalu masuk ke grup-grup. Kita kenali pola komunikasi di grup tersebut, lalu kita mulai memposting dengan mencantumkan tautan websiste kita. Bisa macam-macam pola berkomunikasi ini.

Rifqi mencontohkan dengan membuka sebuah akun di Facebook, tentu saja bukan akun atas nama pribadinya, dan melihat puluhan grup yang dia masuki untuk tujuan promosi dan kampanye. Pola posting di FB sekarang ini, dan memang dari dulu, cenderung provokatif, dia menuturkan.

Dia menunjukan sebuah posting yang menyisipkan gambar seorang nenek yang terlihat sebatang kara, lalu si pengunggah menuliskan seruan untuk mengajak kerumunan (anggota) di grup FB itu untuk menulis “amin” di kolom komentar. Memang ramai betul yang menulis “amin” dan memberi like atau sedekah jempol.

Jadi, singkatnya, “Modalnya cuma amin,” ujar Rifqi.

Seisi kelas tertawa.

Prasetyo dari pers kampus Ekspresi bertanya, konten seperti apa yang kita bagikan?

“Dua-duanya,” kata Rifqi. Misalnya, ada konten serius, yang tidak populer, sekaligus konten ringan. Dalam sebuah website berita, selalu ada dua jenis konten itu.

Isu, secara umum, kalau news pasti terbaca, menurut Rifqi. Kalau news kan ada kaidah sendiri menulisnya, sejauh itu bagus pasti terbaca, tergantung bagaimana membagikannya. Prinsipnya, semua konten terbaca.

Rifqi menambahkan, “Tipikal konten di Indonesia yang laku ada tiga: seks, mistis, dan kriminal.”

Giovanni dari komunitas LGBT kontan geleng-geleng kepala.

Ahmada Syarifudin dari pers kampus Balairung membagi pengalamannya saat medianya menyebar angket pembaca kepada para mahasiswa UGM tentang konten apa yang ingin mereka baca. Kebanyakan adalah konten kuliner, dia bilang.

Rifqi segera melanjutkan, “Iya, angket itu salah satu tools untuk mengidentifikasi pasar. Kalian bisa membuatnya di website. Kasih saja hadiah bagi yang mengisi, misalnya, dengan pulsa gratis.”

Bagustian dari Indie Book Corner bertanya mengenai pendekatan seperti apa ke kerumunan medsos. Tergantung, ujar Rifqi. Bila kita punya modal, ya iklan saja di Facebook. Tapi bila tidak punya, harus bekerja lebih keras. Bikin akun, bikin interaksi. Kuncinya tetap di konten. Konten harus bagus.

Sebagai brand, misalnya kasus Bagus ingin mengembangkan platform Sindikat Otak Kanan dengan konten prosa, video, dan musik, ya fanpage dibuat, ujar Rifqi. Sifat fanpage itu broadcast, orang bisa komentar. Kalau grup, sifatnya egaliter. Kalau untuk kegiatan promosi, ya akun pribadi, masuk ke grup-grup yang banyak. Misalnya, buku, ya masuk ke (grup) kalangan intelektual.

Ada dua model, Rifqi kembali menekankan, untuk membangun brand, fanpage didorong. Tapi untuk promosi, tak cukup dengan fanpage, harus lewat akun pribadi.

“Orang yang sedekah jempol, ada yg seketika itu juga. Tapi sebagian besar yang memberi like adalah orang yang loyal. Maka harus digiatkan interaksinya di fanpage.”

Pengalaman lucu dari Zulfa, peserta asal Semarang yang mengembangkan website pondok pesentern. “Saya pernah bikin akun, ternyata ada yang ngajak pertemanan sampai 4000 akun. Kuota pertemanan sudah penuh, solusinya saya bikin fanpage, saya kasih tahu satu-satu, tapi yang like fanpage, tidak banyak.” Pertanyaannya, bagaimana mengefektifkan kampanye di sana?

Rifqi menjawab, “Mula-mula, dari lanskap digital yang saya jelaskan di awal, kerucutkan lagi untuk menentukan target pasar, lalu pilih kata kunci yang relevan dengan brand kita.

Misalnya website pondok pesantren, kata kuncinya bisa dimulai dengan “pesantren” di kolom mesin pencari Facebook, lalu muncul banyak sekali grup. Nah, tentukan berapa jumlah minimal anggota di grup itu yang akan kita masuki. Taruhlah, 1.000 anggota. Maka, grup dengan jumlah di bawah 1.000 anggota, ya kita tidak perlu gabung ke sana. Lalu, sesudahnya, kita giatkan komunikasi di grup itu dengan memposting berita dengan pola yang sedang tren sekarang.”

IMG_3464
KBEA/ Eko Susanto

Bagaimana di Twitter?

“Cara menyampaikan konten,” ujar Rifqi, “bisa lewat gambar atau dulu orang seringkali dengan kultwit.”

“Sosmed itu dinamis, tergantung tren. Cara-cara menyampaikan sangat dinamis. Bisa Kultwit, gambar, meme, dan belakangan ini yang sedang tren memainkan diksi dan definisi, semacam membuat kamus personal. Nah, itu semua gimmick.”

Intinya, ujar Rifqi, “Selalu memberi konten yang baik, promosi yang terus menerus, dan interaksi yang dibangun positif.”

Dan, jangan lupa, pertama-tama “minta amin kepada kerumunan.” It’s gimmick!

———-

Ditulis oleh Fahri Salam, juru ketik kelas. Materi kelas dalam bentuk presentasi diunggah di website KBEA.CO di laman sendiri.

3 thoughts on “‘Apa yang saya bicarakan di kelas digital yang tidak saya dapatkan ketika kuliah filsafat’ ”

Leave a Reply to Alfian Syafril Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *