Kelas Digital: Sesi Perkenalan

2 Februari 2015

Kelas Digital 2015
KBEA/ Eko Susanto

MUAMMAR FIKRIE membuka kelas dengan perkenalan. Ia penulis isu media sosial dan internet untuk beritagar, satu situs kurasi berita yang berbasis di Jakarta. Ia juga sekilas mengenalkan tentang KBEA, singkatan dari Komunitas Bahagia EA, yang mulanya berkembang seiring mengerjakan proyek-proyek buku. Individu-individu di KBEA kemudian bertemu dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan sejalan itu pula mengembangkan satu komunitas yang tak hanya jadi ruang kreatif, tapi juga saling berbagi, setidak-tidaknya memiliki dimensi sosial.

Kenapa disebut komunitas bahagia? Sederhana saja. Para pegiatnya tengah mengembangkan persepsi tentang diri mereka di tengah lingkungannya, dari ruang domestik hingga relasi yang lebih luas, untuk senantiasa direfleksikan ke dalam (pilihan) tindakan sehari-hari. Mereka ada yang sudah berkeluarga, termasuk saya dan Fikrie, ada pula yang masih jomblo, yang seringkali kisah asmaranya berakhir ngenes–sampai-sampai harus dibuatkan situs Mojok.CO.

Ide kelas digital bermula pada awal 2015 dari refleksi di atas. Dalam satu obrolan di kantor, para pegiat Bahagia mendiskusikan tentang kontribusi personal untuk aktivitas kolektif dalam agenda sosial.  “Apa yang kita miliki, kemampuan kita, untuk dibagikan,” menurut Fikrie.  Ia akhirnya mengerucut untuk bikin sebuah kelas.

Selain kelas digital, nantinya KBEA juga membuka kelas menulis. Itu akan berjalan kontinu, selang-seling, dan terbuka untuk umum dan gratis. Mengingat ada agenda sosialnya, maka para pelamar harus datang dari mereka yang bergiat di komunitas atau organisasi nirlaba. Tujuannya, apa-apa yang dipelajari selama ikut kelas bisa dipraktikkan dalam aktivitas masing-masing peserta di komunitasnya.

Peserta kelas digital kali pertama ini datang dengan latarbelakang beragam. Ada dari pers kampus, portal berita, komunitas santri, LGBT, hingga sindikasi blog sepakbola. Semuanya ada 9 orang. Ada satu yang datang terlambat, ada satu peserta yang tidak hadir.

Fikrie menekankan semua peserta harus punya komitmen serius mengikuti seluruh kelas dan tepat waktu, dari pukul 15:00-17:00. Selain itu, setiap peserta harus membawa pilot project untuk dikembangkan selama lokakarya.

Kelas berlangsung di ruangan tengah KBEA yang menghubungkan pintu depan dan dapur. Kursi-kursi melingkari sebuah meja kayu panjang tempat duduk para peserta. Ada papan tulis putih sekaligus tempat layar tembak proyektor. Kelas dibikin dengan suasana cair dan sesekali muncul gurauan.

Selain Fikrie, pengampu kelas digital adalah Aditya Rizki, pengembang situsweb Mojok.Co, dan Rifqi Muhammad, pendiri Jogjastudent.com. Mereka bertiga akan menemani peserta menjelajahi dunia digital selama lima hari ke depan. Dari membuat sebuah situs online, mempelajari karakter situs, mengenali lanskap digital, memantau dan menganalisinya, hingga hal-hal teknis macam mengoptimalkan mesin pencari.

Semua peserta telah menerima jadwal dan kurikulum kelas lewat email, dan selama berlangsung kelas, mereka akan mengisi sebuah form yang tujuannya memaksimalkan proyek peserta. Nantinya, pada hari terakhir, peserta mempresentasikan hasil proyek tersebut.  Hasil akhir itu bisa menjadi panduan evaluasi bagi para pengajar dan kurikulum kelas, sehingga ada capaian-capaian yang bisa diukur.

Kelas Digital
KBEA/ Eko Susanto

Peserta Kelas Digital angkatan pertama dan proyek yang akan mereka kembangkan:

Aan Zaenu Romli, pengembang beritajogja.co.id, ingin mengembangkan portal berita yang berdiri dua tahun lalu itu lebih baik lagi. Apa kendalanya? Aan bilang, selain sebagian masih kuliah, juga masih kurang tenaga. Ada 10 orang yang bekerja, tujuh di bagian redaksi, sisanya marketing, desain, dan Aan sebagai webmaster. Ada pula yang bekerja ganda, menulis sekaligus sebagai admin medsos.

Prasetyo Wibowo dari pers mahasiswa Ekspresi, Universitas Negeri Yogyakarta, ingin memaksimalkan ekspresionline dan perpustakaan digital Ekspresi. Kendalanya, selain waktu, juga sumberdaya yang kurang mumpuni. Ekspresi online sendiri sudah ada sejak 2007. “Kalau teman-teman sedang semangat, tiap hari ada konten. Tapi pada saat mengerjakan majalah, biasanya terbengkalai,” kata Prasetyo. Ia bilang, meski ada redaktur pelaksana online, tapi sebagian besar penulisnya juga penulis untuk konten majalah. Tugas seorang redaktur online hanya menjaga lalu-lintas konten. “Paling banter… ya ngoyak-ngoyak teman-teman untuk ngisi konten online,” Pras berkomentar.

Mukhamad Zulfa, peserta dari Semarang, adalah administrator untuk rmi-jateng.org, sebuah situsweb yang memuat artikel tentang pesantren Nahdlatul Ulama se-Jawa Tengah. Ia membawahi asosiasi sekira 2.300 pondok pesantren, situswebnya sendiri baru dikembangkan 2014 lalu, “masih simpel sekali,” ujar Zulfa. Apa ada kontributor? Kadang ada santri yang mengirim berita, tapi tidak rutin. Kadang-kadang pula isinya diambil dari berita media masaa umum, seperti Suara Merdeka misalnya, untuk lantas diunggah ke situs tersebut. Ia sendiri masih mengenalkan situsweb itu kepada seluruh ponpes.

Adapun Sirajudin Hasbi dari Fandom Indonesia adalah peserta yang memang sengaja diikutkan di kelas ini, oleh para pengajar, karena pengalamannya mengelola sindikasi blog sepakbola itu. Kehadiran Hasbi setidaknya bisa memperkaya diskusi kelas. Ia memiliki pengalaman yang luas dalam menulis sepakbola, seorang pandit, dan Fandom pernah bekerjasama dengan Yahoo Indonesia pada 2013-2014. Imbasnya pula, situs Fandom terbengkalai termasuk majalah digitalnya, yang bisa diunduh gratis, sempat rutin terbit dua bulan sekali. Fandom adalah komunitas yang cair, orang-orangnya merangkap profesi sebagai pekerja karier, banyak yang keluar-masuk, namun disatukan oleh kesenangan mereka terhadap sepakbola. Kini mereka ingin serius dan fokus lagi pada web Fandom termasuk mengkurasi artikel-artikel lawas mereka yang timeless untuk diunggah ke tampilan baru Fandom. “Saya pengin belajar masang target tahun ini,” ujar Hasbi.

Ovilia Dwi Handayani Triyono dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta–satu-satunya perempuan di kelas hari ini dari dua peserta perempuan–baru belajar dan hendak membangun situsweb untuk lingkaran studinya, para mahasiswa pendidikan bahasa Inggris. Ovi mengetahui kelas ini dari Instagram Jogja Student yang ia ikuti.

Giovanni Arthur Pradipta dari People Like Us – Satu Hati, komunitas LGBT di Yogyakarta, ingin belajar kampanye melalui media sosial, selain juga mengembangkan situsweb tersebut untuk mudah dikenali sebagai kanal informasi dan advokasi tentang isu-isu minoritas seksual. Giovanni memiliki cerita yang kaya dan menarik, termasuk beberapa pengalamannya bersinggungan dengan kelompok anti-LGBT.

Bagustian Iskandar dari penerbit Indie Book Corner, ingin membawa kerja kreatif ke Batam, tempat kelahirannya. Ia tengah merintis komunitas yang dinamakan Sindikat Otak Kanan sebagai ruang kreatif di Batam. Alasannya, “Teman-teman di Batam seringkali membuat karya tapi tak tahu mau dipamerkan di mana,” ujar Bagus. Situsweb yang akan dia bikin nantinya memuat konten musik, sastra, dan video. Bagus ingin membawa pengalamannya lima tahun di Jogja ke “kampung saya sendiri.” Selain online, ujarnya, juga ada offline dengan membuat kelas kreatif dan tetap menjual buku. “Wah, kasihan Irwan Bajang ditinggalkan?” Oh, tenang saja, kata Bagus cepat, saya akan ke Yogya dua bulan sekali.

Wean Guspa Upadhi dari pers kampus Himmah, Univeristas Islam Indonesia, selama ini memiliki situs online tapi tak terurus. Tampilannya masih jelek, tidak ramah pembaca, dan kontennya tidak rutin terbit. Tujuannya ikut kelas untuk memperbaiki lagi situs online tersebut, termasuk pula didukung divisi khusus untuk konten online.

Ahmad Syarifudin dari pers kampus Balairung, Universitas Gadjah Mada, seorang redaktur senior, membangun situsweb bergitar.com, toko online yang menjual pelbagai tipe gitar dengan tampilan yang menarik. Ia hendak mengembangkan perpustakaan digital dan itu menjadi proyeknya selama kelas ini. Toko online Bergitar telah berjalan setahun. Ia bilang, setiap bulan, bisa melayani 5-10 orang yang memesan gitar di tempatnya.

Kelas Digital 2015
KBEA/ Eko Susanto

Berikut kurikulum Kelas Digital untuk 5 hari ke depan: 

3 Februari | Lanskap digital Indonesia: Demografi Netizen, Arah pengembangan Digital oleh Rifqi Muhammad

4 Februari | SEO: Pengantar Situs dan Blog, Karakter Konten Online, Teknik SEO oleh Aditya Rizki

5 Februari | Praktik SEO oleh Aditya Rizki

6 Februari | Social Media Marketing: Karakteristik dan Trik oleh Muammar Fikrie

7 Februari | Riset dan Monitoring: Socmed, GA, Kompetitor oleh Rifqi Muhammad

—-

Ditulis oleh Fahri Salam, juru ketik kelas.

One thought on “Kelas Digital: Sesi Perkenalan”

Leave a Reply to inidanoe Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *