Dari Klinik Buku ke Komunitas Bahagia

Semacam Pengantar

NAMANYA simpel dan sedikit narsis: Klinik Buku EA atau biasa disingkat KBEA. Tidak ada kerja besar dan gagasan hebat di sana. Semua tumbuh nyaris biasa begitu saja.

Bermula dari sesuatu yang sepele. Pada 2008 sebagai penulis, saya mulai kebanjiran menulis buku dari pelbagai lembaga maupun perorangan. Mulailah saya merekrut tim setiap kali punya proyek menulis. Dari manajer sampai transkriptor. Tugas saya menyempit dan lebih fokus: membuat konsep buku, presentasi, melakukan wawancara (jika dianggap penting), terjun ke lapangan (jika perlu riset lapangan) lalu menulis.

Semua jadwal saya sudah diatur oleh manajer proyek. Saya tidak perlu lagi melakukan kerja-kerja lain sebab sudah ada transkriptor, peneliti pustaka, editor dan pemeriksa aksara (proofreader). Kalau proyek tersebut butuh fotografer atau ilustrator, semua sudah ada yang mengatur. Juga kalau klien saya butuh sampai jadi buku. Sudah ada yang mengurus dari tataletak, desain sampul sampai proses cetak.

Semakin banyak klien saya, semakin banyak orang yang saya ajak bekerjasama. Dan tentu saja, jadwal saya makin padat. Akhirnya saya sampai pada posisi membuat konsep, presentasi, membuat outline lalu memeriksa di tahap sebelum penyuntingan dimulai. Sebab sudah banyak penulis yang ikut bekerja bersama saya.

Semua orang yang bekerjasama dengan saya pasti tahu prinsip utama kerja saya. Melanggar tenggat adalah ‘dosa’ yang paling susah untuk diampuni. Saya dipercaya orang karena saya nyaris tidak pernah ingkar tenggat. Kerja keras adalah keharusan.

Sebagai entitas usaha, tentu saya punya kompetitor terutama perusahaan-perusahaan penulisan yang sudah mapan, memiliki sistem yang bagus, modal yang besar dan tentu saja jaringan yang kuat. Bersaing dengan mereka tentu saya kalah. Tapi untuk satu hal, saya tidak mau dikalahkan: kecepatan. Saya punya prinsip bahwa saya boleh kalah pintar dan kalah modal, tapi saya tidak boleh kalah waktu. Saya telah menempa diri saya untuk bekerja berhari-hari tanpa tidur. Berminggu-minggu hanya dengan tidur maksimal 3 jam. Hal ini yang kemudian sering membuat saya menang tender. Ketika kompetitor saya menawarkan proposal membuat buku dalam waktu 6 bulan atau 3 bulan, saya mengunci semua pintu dengan kesanggupan menulis 1 bulan.

Dari pengalaman tersebut, saya berpikir untuk membuat perusahaan penulisan buku (bukan penerbitan) dengan nama yang nama saya melekat di dalamnya. Jadilah janin KBEA.

Tapi kemudian saya memasuki momentum penting menikah. Di saat yang hampir bersamaan, saya bersama beberapa teman membuat perusahaan di Jakarta, sekaligus diminta menjadi direkturnya. Selama 1,5 tahun saya menyuntuki pekerjaan tersebut. Jangankan untuk mengembangkan KBEA, untuk menulis status Facebook pun saya nyaris tidak sempat. Hari-hari saya diisi dengan harus ke kantor jam 8 pagi, dan pulang ke rumah mertua jam 1 dini hari. Saya waktu itu usai menikah sempat tinggal 3 bulan di rumah mertua di Jakarta. Ketika kondisi keuangan perusahaan mulai baik, saya mengajak istri saya tinggal di Yogya, di rumah kontrakan saya. Sehingga saya bolak-balik Jakarta-Yogya. Tentu perusahaan yang membayar tiket pesawat terbangnya.

Di fase itulah, saya mulai memikirkan kembali KBEA. Akhirnya saya menyewa rumah khusus untuk kantor KBEA. Tapi membuat usaha sendiri ternyata tidak mudah. Tidak seperti yang saya bayangkan. KBEA nyaris bangkrut.

Usai memenuhi mandat menjadi direktur, saya punya waktu lebih banyak lagi. Saya mulai melakukan beberapa pembenahan. Saya juga mengajak seorang anak muda dari Jember untuk khusus konsentrasi ‘menyelamatkan’ KBEA. Sebagai gambaran, waktu itu saya tidak sanggup menggaji dia. Saya hanya bisa memberi uang makan, komunikasi, dan uang bensin sebesar Rp 1 juta. Kami bahu-membahu berdua. Saat saya punya rumah mungil yang sekarang saya tempati, kondisi KBEA masih tidak begitu bagus. Hingga saya putuskan KBEA pindah kantor dari kantor lama ke bekas rumah kontrakan saya yang juga tidak begitu besar.

Saya beruntung karena tidak semua relasi saya menghilang setelah 1,5 tahun saya ‘ganti profesi’ dari penulis ke direktur. KBEA mulai dapat proyek pertama kali dengan nilai 18 juta. Angka itu jauh di bawah rata-rata jika dibanding ketika saya masih menjadi penulis sendirian. Tapi saya khas Aries dan romanisti sejati: ngotot. Tandem saya sekalipun umurnya jauh di bawah saya dan kalem, tapi sangat militan. Ia pernah tidak tidur hampir seminggu di depan laptopnya yang sudah butut.

Mulailah kami dapat proyek penulisan dan penelitian. Kami mulai merekrut anggota tim. Saya mulai menemukan kegembiraan. Bukan semata karena periuk perusahaan mengepul. Tapi karena ada banyak orang yang terlibat bekerja dengan saya. Bagi saya yang kuliah saja nyaris tidak lulus, orang lain, terutama anak-anak muda adalah tempat saya belajar. Mereka menguasai banyak hal, penuh dengan semangat, banyak gagasan. Di KBEA mereka belajar bekerja dengan profesional dan mendapatkan uang. Saya juga bisa berbagi pengalaman dan diskusi dengan mereka.

Kantor KBEA akhirnya tidak pernah sepi dari aktivitas dan anak muda. Bahkan bukan hanya dari Yogya, ada banyak yang dari luar kota. Kantor KBEA yang sederhana dan mungil itu kemudian menjadi tempat mampir dan menginap anak-anak muda dari luar kota. Sungguh menyenangkan. Di kantor KBEA ada banyak kopi enak, kalau jam makan tiba, siapapun tamu yang ada selalu ditawari makan, kalau ada musafir kehabisan uang maka KBEA wajib membantunya.

Sampailah kemudian KBEA memasuki babak baru. Dengan agak nekat, saya memutuskan KBEA untuk punya kantor sendiri.

Bagi teman-teman dekat KBEA mungkin keputusan saya dianggap gila. Tapi mereka sudah terbiasa dengan ‘kegilaan’ saya. Namun, sebagaimana saya pernah memprentasikan pada mereka, bisnis pembuatan buku harus segera ditinggalkan. Internet mengubah banyak hal. Juga soal buku. Bisnis KBEA ini paling hanya akan bertahan 3 tahun lagi.

Karena itu, saya mengubah nama semula Klinik Buku menjadi Komunitas Bahagia EA.

Dan perubahan bisnis itu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Selain ada sekian banyak eksperimen yang harus kami lakukan dan tentu saja akan menguras keuangan KBEA.

Lagi-lagi, sebetulnya tidak ada yang hebat dari manuver itu. Saya bukan pebisnis hebat. Masih belum apa-apa. Saya hanya ingin menyemangati teman-teman lain yang mungkin sedang punya usaha. Apapun usaha Anda. Kalau saya diminta masukan, jawaban saya hanya satu: jaga janji.

Orang yang terbiasa melanggar janji atau tenggat, atau apapun itu, tidak akan pernah dipercaya oleh klien dan relasi bisnisnya. Dan itu cara paling menyedihkan karena Anda menutup pintu rezeki sendiri. Sebab tidak ada bisnis tanpa kepercayaan.

Saya juga minta restu teman-teman semua, semoga kantor baru kami nanti akan semakin baik buat banyak orang. Amin.

Puthut EA

One thought on “Dari Klinik Buku ke Komunitas Bahagia”

Leave a Reply to inidanoe Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *