Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Kelas membincangkan sejumlah tugas menulis reportase; ditutup evaluasi.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

HUSNA FARAH, peserta kelas menulis KBEA, membacakan narasi yang dia tulis tentang salah satu masalah sosial di tempat kelahirannya di Depok, Jawa Barat. Dia menulis dari sudut dunia kecil subyek, kisah keluarga miskin tapi memiliki 9 anak, sehingga pasangan itu kerepotan membesarkan salah satu anaknya. Kemudian si anak diserahkan kepada keluarga yang bersedia mengadopsinya yang merawatnya dengan baik—tiada membedakan antara anak kandung sendiri. Pasangan itu—dekat dengan kehidupan Farah–berjanji takkan memisahkan si anak dengan ibu kandungnya sendiri.

Konflik emosional muncul setelah si anak makin tahu latarbelakang keluarganya. Dalam jalinan pelik dunia orang dewasa, si anak mulai tidur di rumah orangtuanya, “sebuah wilayah perkumpulan pemulung di daerah Depok.” Dia akan bangun subuh hari, lalu pergi ke rumah orangtua angkat, pergi ke sebuah sekolah dasar, bermain hingga petang, dan malamnya kembali ke rumah ibunya. Continue reading Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Laki-Laki yang Disalahpahami

Seandainya Nody memiliki ketrampilan berbicara, saya yakin dia akan seribu kali lipat membuat geger dunia. Tuhan menjaganya dengan memberi ‘pagar’ di lidahnya. Nody tidak cakap bicara.

Di komunitas KBEA, hanya Nody yang kalau tidak dibilang mirip Nicholas Saputra ya dibilang mirip Rivaldo. Orangnya pendiam, suka baca buku, dan makannya banyak. Idola para perempuan. Continue reading Laki-Laki yang Disalahpahami

Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Menulis adalah aktivitas yang hampir mirip memasak. Selain keduanya membutuhkan kebiasaan, orang takkan peduli bagaimana cara Anda memasak, perjuangan Anda mendapatkan dan mengolah bumbu, hiruk-pikuk di dapur, dan sebagainya. Yang dinilai mula-mula dari hasil akhir masakan tersebut terutama tampilan serta rasanya. Seperti masakan, tulisan seseorang juga akan dinilai dari rasa (substansi tulisan) serta tampilan (struktur tulisan) yang tersaji.
Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

SESI KEDUA kelas menulis, Rabu, 18 Februari, dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal. Sesi ini membahas sembilan karya peserta yang sebelumnya dikirimkan ke panitia. Sebelum mendiskusikan karya-karya itu, para peserta terlebih dulu menceritakan tentang konteks serta kendala-kendala yang mereka hadapi ketika menulisnya. Continue reading Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Bisnis

Saya sering bertemu dengan banyak teman yang ingin punya usaha. Berbisnis, begitu bahasa mudahnya. Tapi hampir semua yang saya temui belum punya sikap mental dalam berbisnis.

Pertama, kebanyakan dari mereka terlalu lama berpikir. Mau bikin warung kopi saja, ada teman saya yang mikirnya sampai 8 tahun. Sudah bertemu saya belasan kali, setiap ketemu obrolannya masih sama: konsep warung kopi. Dan banyak yang seperti itu, ada yang sudah 2 tahun mikir bisnis, ada yang 4 tahun, dsb. Itu mau bikin teori baru atau mau bisnis… Saya terus terang bingung.

Kedua, tidak mau rugi. Bisnis itu ya seperti usaha yang lain, punya kemungkinan berhasil tapi juga punya risiko rugi. Tapi banyak teman saya yang mikir bisnis kemudian tidak segera dieksekusi karena menghitung ada kemungkinan rugi. Sampai jebol pikiran mereka ya pasti tidak akan menutup peluang terjadinya kerugian. Hukum alamnya demikian. Continue reading Bisnis

Sesi Perkenalan Kelas Menulis: Tak Kenal Maka Ta’aruf

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

BEGITU tiba di kantor Komunitas Bahagia, Fahri Salam masuk ke ruang tengah dan menyapa lima peserta kelas menulis yang sudah datang. Selain memperkenalkan diri, dia menunjukkan letak toilet dan dapur, barangkali ada peserta yang mau bikin kopi sendiri. Fahri memperkenalkan para pegiat KBEA yang ada di kantor: Arlian Buana, penjaga gawang Mojok.co; Aditya Rizki, pria paling kalem yang keahliannya tentang bahasa kode melampaui bahasa percakapan; Eko Susanto, seorang responsif atas segala hal yang kamu butuhkan termasuk menyediakan brownies untuk sesi pembuka kelas menulis; Rifqi Muhammad, taipan media yang (akhirnya) menyandang Kagama; dan Wisnu Prasetya Utomo, anak muda yang kritis mencermati perkembangan media segesit dia membagi waktu saban bulan antara aktivitasnya di Yogyakarta dan Jakarta.

Setelah memindahkan gorengan ke dalam piring, meletakkannya di atas meja kayu panjang di ruangan tengah, tempat para peserta duduk di atas kursi yang mengitarinya, Fahri memulai sesi perkenalan kelas menulis yang berlangsung dari 16 Februari – 4 Maret 2015.

“Tantangan seorang penulis sekarang,” menurut Fahri, “salah satunya menyampaikan problem dunia yang makin kompleks ke dalam bahasa yang mudah dipahami.” Hari-hari ini adalah masa ketika terjadi apa yang dia sebut sebagai “inflasi pengamat.” Setiap hari kita melihat kutipan-kutipan para “pengamat” bertaburan di media cetak, online maupun televisi. Akhirnya yang tercipta adalah realitas psikologis yang diciptakan oleh para “pengamat” dan membuat pembaca diombang-ambing arus informasi. Continue reading Sesi Perkenalan Kelas Menulis: Tak Kenal Maka Ta’aruf