Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Menulis adalah aktivitas yang hampir mirip memasak. Selain keduanya membutuhkan kebiasaan, orang takkan peduli bagaimana cara Anda memasak, perjuangan Anda mendapatkan dan mengolah bumbu, hiruk-pikuk di dapur, dan sebagainya. Yang dinilai mula-mula dari hasil akhir masakan tersebut terutama tampilan serta rasanya. Seperti masakan, tulisan seseorang juga akan dinilai dari rasa (substansi tulisan) serta tampilan (struktur tulisan) yang tersaji.
Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

SESI KEDUA kelas menulis, Rabu, 18 Februari, dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal. Sesi ini membahas sembilan karya peserta yang sebelumnya dikirimkan ke panitia. Sebelum mendiskusikan karya-karya itu, para peserta terlebih dulu menceritakan tentang konteks serta kendala-kendala yang mereka hadapi ketika menulisnya. Continue reading Sesi #2 — Menyingkap Bara yang Terpendam

Bisnis

Saya sering bertemu dengan banyak teman yang ingin punya usaha. Berbisnis, begitu bahasa mudahnya. Tapi hampir semua yang saya temui belum punya sikap mental dalam berbisnis.

Pertama, kebanyakan dari mereka terlalu lama berpikir. Mau bikin warung kopi saja, ada teman saya yang mikirnya sampai 8 tahun. Sudah bertemu saya belasan kali, setiap ketemu obrolannya masih sama: konsep warung kopi. Dan banyak yang seperti itu, ada yang sudah 2 tahun mikir bisnis, ada yang 4 tahun, dsb. Itu mau bikin teori baru atau mau bisnis… Saya terus terang bingung.

Kedua, tidak mau rugi. Bisnis itu ya seperti usaha yang lain, punya kemungkinan berhasil tapi juga punya risiko rugi. Tapi banyak teman saya yang mikir bisnis kemudian tidak segera dieksekusi karena menghitung ada kemungkinan rugi. Sampai jebol pikiran mereka ya pasti tidak akan menutup peluang terjadinya kerugian. Hukum alamnya demikian. Continue reading Bisnis

Sesi Perkenalan Kelas Menulis: Tak Kenal Maka Ta’aruf

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

BEGITU tiba di kantor Komunitas Bahagia, Fahri Salam masuk ke ruang tengah dan menyapa lima peserta kelas menulis yang sudah datang. Selain memperkenalkan diri, dia menunjukkan letak toilet dan dapur, barangkali ada peserta yang mau bikin kopi sendiri. Fahri memperkenalkan para pegiat KBEA yang ada di kantor: Arlian Buana, penjaga gawang Mojok.co; Aditya Rizki, pria paling kalem yang keahliannya tentang bahasa kode melampaui bahasa percakapan; Eko Susanto, seorang responsif atas segala hal yang kamu butuhkan termasuk menyediakan brownies untuk sesi pembuka kelas menulis; Rifqi Muhammad, taipan media yang (akhirnya) menyandang Kagama; dan Wisnu Prasetya Utomo, anak muda yang kritis mencermati perkembangan media segesit dia membagi waktu saban bulan antara aktivitasnya di Yogyakarta dan Jakarta.

Setelah memindahkan gorengan ke dalam piring, meletakkannya di atas meja kayu panjang di ruangan tengah, tempat para peserta duduk di atas kursi yang mengitarinya, Fahri memulai sesi perkenalan kelas menulis yang berlangsung dari 16 Februari – 4 Maret 2015.

“Tantangan seorang penulis sekarang,” menurut Fahri, “salah satunya menyampaikan problem dunia yang makin kompleks ke dalam bahasa yang mudah dipahami.” Hari-hari ini adalah masa ketika terjadi apa yang dia sebut sebagai “inflasi pengamat.” Setiap hari kita melihat kutipan-kutipan para “pengamat” bertaburan di media cetak, online maupun televisi. Akhirnya yang tercipta adalah realitas psikologis yang diciptakan oleh para “pengamat” dan membuat pembaca diombang-ambing arus informasi. Continue reading Sesi Perkenalan Kelas Menulis: Tak Kenal Maka Ta’aruf

Pengumuman Peserta Kelas Menulis KBEA

ADA lebih dari 50 pelamar yang mengajukan aplikasi untuk kami seleksi mengikuti kelas menulis saat pendaftaran dibuka selama 10 hari. Sebagian besar dari Yogyakarta, tapi ada juga dari Sragen, Solo, Malang, dan Jember.

Pertimbangan kami, selain dari kualitas tulisan, kami menilai dari motivasi dan latarbelakang organisasi calon peserta. Hal penting lain ruang belajar yang terbatas. Kami menginginkan kelas ini nantinya dapat berjalan efektif, setidaknya dari ukuran itu kami menyeleksi para peserta yang sudah selesai dari sekadar bisa menulis. Continue reading Pengumuman Peserta Kelas Menulis KBEA

Gaya Hidup Bahagia

Saya sering membaca artikel tentang bagaimana gaya hidup sehat di berbagai media massa. Semua mirip. Intinya ya kira-kira menyarankan agar rutin berolahraga, menjaga pola makan, menghindari stres, dll.

Kami di KBEA memiliki konsep sendiri, dan tentu konsep itu belum final. Kami sedang mengusahakan sebuah komunitas dengan ‘gaya hidup bahagia’. Apa itu? Bagaimana kira-kira praktiknya?

Kami percaya bahwa setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi kadang kala pencarian itu tertutupi pencarian lain: mencari uang, mencari ketenaran, mencari pangkat dan jabatan, dll. Sekali lagi mencari itu semua bukannya tidak boleh. Tapi kerap kita mengorbankan pencarian akan kebahagiaan. Kemudian yang terjadi kebahagiaan berusaha ‘ditemukan’ dengan cara yang berbeda: belanja, pesta, wisata. Lagi-lagi bukan berarti itu tidak baik. Ini bukan soal baik atau tidak. Continue reading Gaya Hidup Bahagia