Bintang-Bintang di Lapangan Sale

Nody masih tidur nyenyak ketika Kang Eko datang dan Rifqi membawa bungkusan soto ayam. Mendengar orang membuka pintu, Nody terbangun kaget dan langsung misuh: “Cuk, aku lagi ngimpi bareng cewek durung tuntas kok wes do teko.” Masih sambil misuh Nody ingin melanjutkan mimpinya di kamar mandi. Saya meh ngguyu tapi karena tahu rasanya mimpi yang belum tuntas karena dibangunkan paksa, terus gak jadi. Cukup mesem saja. Setelah itu Fahri dan Aditya datang.

Jam 08.00, kami berangkat menuju Rembang, tepatnya di kecamatan Sale. Selama seminggu, KBEA akan mengisi pelatihan menulis dan membuat web di sana. Rifqi sebagai kapten rombongan sudah memberi aba-aba, perjalanan dengan mobil L300 ini akan ditempuh dalam waktu 6 jam melalui Ngawi. Mendengar arahan simbah badan ini rasanya sudah kemretek, membayangkan kondisi jalan yang gronjal-gronjal. Huh. Semua tertidur pulas, kecuali Nody yang sibuk main wassap dengan beberapa, ah sudahlah.

Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.
Foto bersama sebelum berangkat ke Sale.

Continue reading Bintang-Bintang di Lapangan Sale

Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Kelas membincangkan sejumlah tugas menulis reportase; ditutup evaluasi.

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

HUSNA FARAH, peserta kelas menulis KBEA, membacakan narasi yang dia tulis tentang salah satu masalah sosial di tempat kelahirannya di Depok, Jawa Barat. Dia menulis dari sudut dunia kecil subyek, kisah keluarga miskin tapi memiliki 9 anak, sehingga pasangan itu kerepotan membesarkan salah satu anaknya. Kemudian si anak diserahkan kepada keluarga yang bersedia mengadopsinya yang merawatnya dengan baik—tiada membedakan antara anak kandung sendiri. Pasangan itu—dekat dengan kehidupan Farah–berjanji takkan memisahkan si anak dengan ibu kandungnya sendiri.

Konflik emosional muncul setelah si anak makin tahu latarbelakang keluarganya. Dalam jalinan pelik dunia orang dewasa, si anak mulai tidur di rumah orangtuanya, “sebuah wilayah perkumpulan pemulung di daerah Depok.” Dia akan bangun subuh hari, lalu pergi ke rumah orangtua angkat, pergi ke sebuah sekolah dasar, bermain hingga petang, dan malamnya kembali ke rumah ibunya. Continue reading Sesi Terakhir: Mengubah pendekatan

Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Eko Susanto/ KBEA
Eko Susanto/ KBEA

“KARAKTER dan plot itu seperti al-fatihah—induknya al-Quran,” Puthut EA melontarkan renik ayatnya dalam satu tausyih malam Jumat dengan para peserta Kelas Menulis KBEA.

Diskusi berselang di sebuah kedai kopi Phoenam, bilangan Kaliurang km 5,6, di bawah penerangan temaram. Di sebuah tembok kedai, terpajang pigura kliping iklan media cetak tempo doeloe, di bagian lain ditempeli aksara Mandarin. Suasananya sepi. Sesekali terdengar derum kendaraan dari jalan raya, sekitar sepuluh meter dari ruang diskusi. Phoenam berasal dari kata Mandarin, Pho Nam’, artinya ‘terminal selatan’, persinggahan sementara. Typografi logonya antarsatu huruf dijajar linear. Huruf ‘P’ bersapu warna hitam, lainnya hijau muda.

Puthut memulai dengan pertanyaan, “Siapa yang belajar menulis untuk bagian dari skill kehidupan atau sebagai pekerjaan?” Continue reading Fragmen — Tausyiah 3 Jam di Terminal

Laki-Laki yang Disalahpahami

Seandainya Nody memiliki ketrampilan berbicara, saya yakin dia akan seribu kali lipat membuat geger dunia. Tuhan menjaganya dengan memberi ‘pagar’ di lidahnya. Nody tidak cakap bicara.

Di komunitas KBEA, hanya Nody yang kalau tidak dibilang mirip Nicholas Saputra ya dibilang mirip Rivaldo. Orangnya pendiam, suka baca buku, dan makannya banyak. Idola para perempuan. Continue reading Laki-Laki yang Disalahpahami

Sepakbola

Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia. Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup.

Saya merasa sudah bekerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. Setiap sore selepas ashar sampai magrib saya selalu bermain bola di lapangan dekat rumah. Kalau sedang tidak ada yang bermain, saya berlatih sendirian di halaman depan rumah yang hanya seluas lapangan badminton. Oh iya, bolanya bola plastik. Saya sering mencetak gol dengan tendangan pisang ala David Beckham. Kalau cuaca tidak memungkinkan saya bermain sendirian di dalam rumah menggunakan bola kasti. Kelas 5 SD saya sempat bergabung dengan sekolah sepakbola di Salatiga, agak jauh dari rumah. Karena Bapak yang setiap sore mengantar kecapekan, saya disuruh berhenti setelah dua minggu berlatih. Sedih. Setidaknya sudah bisa melihat Bambang Pamungkas sebelum ia bergabung dengan klub di Belanda. Saya pindah ke sekolah sepakbola di dekat rumah. Continue reading Sepakbola